Tampilkan postingan dengan label Fotografer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotografer. Tampilkan semua postingan
Jumat, November 21, 2008
Aditya Kurniawan

Nikkor :
* Ai-S 18 mm f/3.5 Nikkor
* Ai-S 20 mm f/2.8 Nikkor
* Ai-S 24 mm f/2.8 Nikkor
* Ai-S 28 mm f/2 Nikkor
* Ai-S 35 mm f/1.4 Nikkor
* Ai-S 35 mm f/2 Nikkor
* PC 35 mm f/2.8 Nikkor
* Ai-S 25-50 mm f/4 Nikkor
Canon :
* EF-S 18-55mm F/3.5-5.6 - sering kali, tapi dalam beberapa kondisi tidak ada hotspot(info dari kak YY)
* Canon EF-S 10-22mm/3.5-4.5 USM -> butuh klarifikasi
* Canon EF 20 mm f/2.8
* Canon EF 24 mm f/2.8
* Canon EF 50 mm f/1.4
* Canon EF 50 mm f/2.5 macro
* Canon EF 85 mm f/1.8
* Canon EF 16-35 mm f/2.8 L
* Canon EF 24-85 mm f/3.5-4.5 USM
* Canon EF 28-70 mm f/2.8 L
* Canon EF 35-80 f/4.0-5.6
* Canon EF 70-200 mm f/2.8 L IS
* Canon 200/2.8L produces a hot spot after f10-f11
Tokina :
* AF 12-24mm f/4 124 AF Pro DX
Sigma :
* 12-24mm F/4.5-5.6 EX DG ASPHERICAL HSM (sweetspot)
* sigma 10-20 (sweetspot)
* Sigma 18-50mm f/2.8 EX DC
* Sigma 30 mm f/1.4
* Sigma 70-200 mm f/2.8
Tamron :
* SP AF17-50mm F/2.8 XR Di II LD Aspherical [IF]
* Tamron SP AF 24-135 mm f/3.5-5.6 AD aspherical macro
* Tamron AF 70-300 mm f/4.0-5.6 LD macro
* Tamron 17-35 mm f/2.8-4.0 SP AF Di
* Tamron 18-200 XR Di II LD Aspherical [IF]
Olympus :
* Olympus Zuiko 14-42mm f/3.5-5.6
Carl-Zeiss :
* Carl Zeiss Planar T* 50 mm f/1.4 (for Contax)
Jumat, November 21, 2008
Aditya Kurniawan

alat dan bahan :
1. obeng yang seukuran skrup kamera
2. sebuah filter infrared (yang umum aja deh..Hoya UV / R25a / 72 )
3. cutter
4. kunci L ukuran 1.5mm~2mm
5. multi tester ... lebih baik lagi kalau ada tang meter (untuk mengecek masih ada arus atau tidak)
yah..karena pada dasarnya kamera digital bentuknya tidak begitu berbeda...jadi saya kasi patokan step by stepnya saja.
1. lepaskan batere + memory dari kamera...diamkan kira2 lebih dari 30mnt
2. pastikan tidak ada arus yang masih ada di kapasitor kamera
3. lepas satu persatu bagian...
4. anda harus mengingat posisi scruptnya!
5. saat anda melihat kabel tipis..yang melebar..(kabel ribbon)..lepaskan perlahan menggunakan kuku anda
Kamis, November 20, 2008
Aditya Kurniawan
Bersyukurlah kini sudah memasuki era digital..buat kita para photographer, kita ga perlu lagi ribet2 nyuci film..dan ga susah lagi untuk melakukan self post processing..
Film udah digantikan oleh sensor sebagai media perekam cahaya pada kamera..dan karena sifatnya dia adalah menerima dan merekam layaknya retina mata kita...tentunya dia akan menerima semua spektrum cahaya itu tanpa menseleksi........yah...keterbatasan teknologi
cman..kenapa pada kamera biasa tidak terlihat sinar UV..infrared..dll?
gambaran kasarnya
cahaya - lensa - hotmirror - sensor
-------------->||--->[-->sensor
-------------->||--->[-->sensor
-------------->||--->[-->sensor
-------------->||--->[-->sensor
hotmirror yang ada di antara lensa dan sensor bisa dianalogikan sebagai filter atau saringan cahaya..
jadi simplenya adalah..kalau mau moto infrared..cabut aja hot mirrornya
lalu bagaimana dengan filter-filter infrared yang banyak di jual saat ini? seperti Hoya R72 atau Cokin 007?..
filter2 tersebut sebenarnya adalah saringan yang sifatnya agak mirip dengan hot mirror tsb...kepekatan bahannya membuat sinar IR tembus kedalam lensa tanpa diikuti cahaya yang spektrumnya lebih panjang
hanya saja, karena sifatnya yang pekat..maka seperti saringan yang pekat..air bakal susah melaluinya......cahaya yang diterima sensor sangatlah sedikit, dan akan menyebabakan slow speed.. (udah pekat, masi harus berhadapan dengan hot mirror )
filter-filter infrared itu sendiri sebenarnya tidak terbatas hanya pada hoya dan cokin..

Film udah digantikan oleh sensor sebagai media perekam cahaya pada kamera..dan karena sifatnya dia adalah menerima dan merekam layaknya retina mata kita...tentunya dia akan menerima semua spektrum cahaya itu tanpa menseleksi........yah...keterbatasan teknologi
cman..kenapa pada kamera biasa tidak terlihat sinar UV..infrared..dll?
gambaran kasarnya
cahaya - lensa - hotmirror - sensor
-------------->||--->[-->sensor
-------------->||--->[-->sensor
-------------->||--->[-->sensor
-------------->||--->[-->sensor
hotmirror yang ada di antara lensa dan sensor bisa dianalogikan sebagai filter atau saringan cahaya..
jadi simplenya adalah..kalau mau moto infrared..cabut aja hot mirrornya
lalu bagaimana dengan filter-filter infrared yang banyak di jual saat ini? seperti Hoya R72 atau Cokin 007?..
filter2 tersebut sebenarnya adalah saringan yang sifatnya agak mirip dengan hot mirror tsb...kepekatan bahannya membuat sinar IR tembus kedalam lensa tanpa diikuti cahaya yang spektrumnya lebih panjang
hanya saja, karena sifatnya yang pekat..maka seperti saringan yang pekat..air bakal susah melaluinya......cahaya yang diterima sensor sangatlah sedikit, dan akan menyebabakan slow speed.. (udah pekat, masi harus berhadapan dengan hot mirror )
filter-filter infrared itu sendiri sebenarnya tidak terbatas hanya pada hoya dan cokin..

Rabu, November 19, 2008
Aditya Kurniawan

Selalu Bawa Kamera (camera )
Alasan utama mengapa Anda melewatkan momen yang bagus untuk difoto adalah karena Anda tidak membawa kamera. Jadikanlah suatu kebiasaan untuk selalu membawa kamera kemanapun Anda bepergian karena Anda tidak tahu momen-momen atau pemandangan-pemandangan apa yang akan Anda temui nanti. Belilah tas atau tempat untuk kamera Anda karena hal tersebut dapat memudahkan Anda membawa kamera, selain itu juga dapat melindungi kamera Anda dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti goresan maupun benturan dengan benda lain. Tas atau tempat kamera yang memiliki busa dan memiliki lapisan luar yang cukup keras adalah pilihan yang cerdas untuk hal ini.
Foto Lebih Banyak Lagi (more photos)
Jika Anda berfikir bahwa Anda telah cukup banyak mengambil foto, tidak demikian adanya, terutama jika Anda adalah pemilik kamera dijital. Hasil foto kamera dijital disimpan dalam format dijital (berkas), jadi tidak ada kerugian bagi Anda untuk mengambil foto lebih banyak. Memang foto tersebut akan menghabiskan sejumlah space pada kartu memori Anda, namun nantinya Anda dapat dengan mudah menghapusnya jika Anda tidak puas dengan hasil foto tersebut. Mengapa Anda mengambil sebuah foto jika Anda bisa mengambil banyak foto? Tidak usah ragu, karena mungkin tempat di mana Anda mengambil foto tersebut tidak akan Anda kunjungi lagi. Foto sebebas-bebasnya, karena pemandangan/adegan sehari-hari yang membosankan dapat saja menjadi bersejarah beberapa tahun kemudian.
Percaya pada Mata Anda (trust your eyes)
Mempelajari aturan-aturan composition adalah hal yang baik, namun aturan-aturan tersebut kadangkala tidak berlaku dan ada kalanya Anda harus mempercayai mata Anda. Ketika kita akan memfoto sebuah objek, gerakkan atau pindahkan kamera dan jelajahi pemandangan sekitarnya. Ketika Anda menemukan sudut potret yang menurut Anda bagus, fotolah dengan segera.
Latih Mata Anda (improve your eyes)
Lihat dan perhatikan dengan seksama foto yang Anda ambil. Cobalah untuk menemukan kekurangan-kekurangan dan kritiklah hasil foto tersebut. Apakah foto tersebut sesuai dengan apa yang kita inginkan pada saat kita memfoto? Apakah Anda suka composition-nya? Aktivitas peninjauan kembali hasil foto oleh Anda sendiri sangat esensial dalam meningkatkan indra fotografi Anda.
Kenali Kamera Anda (know your camera)
Anda tidak perlu menghafal setiap fitur pada kamera Anda sesegera mungkin. Akan lebih mudah mengingat fitur-fitur Anda dengan perlahan-lahan mencoba fitur-fitur kamera Anda satu-persatu melalui aktivitas fotografi sehari-hari. Analoginya seperti saat kita belajar mengganti persneling saat mengendarai sepeda motor atau mobil. Jadikan kemampuan mengutak-atik fitur kamera menjadi kebiasaan Anda. Dengan demikian Anda tahu dengan baik fitur-fitur apa yang mesti dipakai pada saat memfoto suatu objek atau pemandangan.
Selalu Bekerja pada Berkas Salinan (always work with your copy)
Hal ini berlaku untuk era baru fotografi yaitu kamera dijital. Perlu Anda ingat bahwa sebelum Anda membuat foto salinan maka foto yang Anda punya adalah foto satu-satunya yang masih asli. Biasakanlah membuat salinan atas berkas foto yang akan Anda utak-atik. Beberapa perangkat pengolahan/pengorganisasi gambar dijital biasanya menyertakan fitur ini.
Rabu, November 19, 2008
Aditya Kurniawan
Fotografi memang memiliki aspek teknologi dan estetika. Sebagai teknologi, fotografi pada awalnya diciptakan sebagai alat rekam. Kamera berikut perlengkapan yang memungkinkannya merekam citra (image) adalah aspek perangkat keras (hardware) teknologi fotografi; sedangkan pengetahuan tentang bagaimana cara menggunakan perangkat tersebut untuk menghasilkan citra adalah aspek perangkat lunaknya (software).Penguasaan aspek teknologi saja tidak serta merta membuat orang menjadi seniman foto. Banyak orang mempunyai kamera dan pengetahuan tentang bagaimana cara menggunakannya dengan baik. Namun karena cara dan tujuan penggunaan aspek teknologi tersebut, mereka tidak dapat dikatakan sebagai seniman foto. Seorang ibu yang menggunakan kamera untuk merekam momen-momen penting dalam kehidupan keluarganya atau para peneliti yang menggunakan kamera untuk mendokumentasikan objek penelitiannya tidak dapat dikatakan sebagai seorang seniman foto, meskipun mungkin foto-foto yang dihasilkannya secara teknis sempurna dan boleh jadi memiliki nilai estetika yang cukup tinggi. Demikian juga seorang wartawan foto yang mengabadikan momen-momen penting sejarah. Meskipun karya-karya fotonya boleh jadi istimewa dari segi teknis dan muatan ceritanya, karya-karya itu menurut saya tidak dapat dianggap sebagai karya seni, walaupun karya-karya itu mempunyai nilai komersial tinggi, dikoleksi oleh museum dan/atau dipamerkan di galeri-galeri terkemuka.
Seni tidak dapat dinilai dari aspek teknis dan/atau komersialnya saja. Ada aspek yang lebih esensial yang membuat suatu karya bisa digolongkan sebagai suatu ekspresi seni, yaitu aspek kreatif-eksploratif-estetik. Dalam urutan ini, aspek estetik dicapai bukan semata karena kelihaian dalam memanfaatkan aspek teknologi, namun (dan ini yang lebih penting) karena adanya aspek kesengajaan dan keinginan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang lahir dari perenungan gagasan yang bersifat eksploratif. Dengan kata lain, perenungan eksploratif melahirkan gagasan untuk mencipta. Gagasan ini kemudian dicarikan bentuknya dengan memanfaatkan aspek teknologi. Jika teknologi yang ada belum memungkinkan untuk memberikan bentuk ekspresi bagi gagasan yang dimiliki oleh seorang seniman, maka seniman itu mungkin akan berusaha menggabungkan beberapa teknologi yang ada, atau memanfaatkan teknologi yang ada secara kreatif, atau bekerjasama dengan engineers menciptakan teknologi baru untuk mewujudkan gagasannya itu. Jadi aspek teknologi atau kesempurnaan teknis dalam hal ini tidak menjadi unsur utama, tapi hanya pendukung atau alat berkreasi.
Bye: Vira
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed