Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sudah sama-sama kita pahami, bahwa sebagian kecil orang yang ada di muka bumi, senang dan gemar membaca buku.

Mengingat sebagai sarana penggalian ilmu adalah melalui catatan-catatan atau buku-buku itu, maka perlulah kiranya, diketahui tentang beberapa hal yang berpengaruh disekitarnya.

I. Maksud dan Tujuan dari si pengarang
II. Macam-macam isi dari Buku.
III. Latar Belakang pengarang
IV. Macam-macam kedalaman dari isi.

Kumulai bahasanku dengan mengungkap yang pertama.

I. Maksud dan Tujuan dari si pengarang.

Sebelum pengarang menulis suatu hal di dalam tulisannya, atau di dalam suatu buku, perlulah kita sadari berbagai maksud dan tujuan dari si pengarang.

Diantaranya adalah :

1. Maksud dan Tujuan dalam hal Politik
Seandainya pengarang suatu buku memiliki maksud dan tujuan dalam hal politik.
Bisa untuk memasukkan suatu faham politik, suatu ideologi politik, dll.
Bisa juga untuk menyerang lawan-lawan politiknya
Bisa juga untuk meningkatkan performance pengarang di dalam kancah politik.
Contoh: Biografi Suharto.

2. Maksud dan tujuan Pengarang dalam hal Ekonomi.
Seandainya Maksud dan Tujuan Pengarang menulis suatu buku dengan tujuan meningkatkan ekonomi dirinya atau tujuan Bisnis semata, atau tujuan Komersial.
Di sini, kadang impian-impian dari manusia menjadi satu ciri, menjadi satu hal yang secara halus maupun jelas dieksploitasi di dalam isi buku untuk menarik minat dari pembacanya.
Contoh: Beberapa buku Mujarobat.

3. Maksud dan Tujuan Pengarang dalam hal Budaya.
Seandainya Maksud dan Tujuan Pengarang di dalam menulis suatu buku adalah dalam rangka memasukkan suatu kebudayaan pada pembacanya.
Entah itu memasukkan budaya Timur, Budaya Barat, Budaya Komunis, Budaya dll,dll,dll.
Hampir mirip dengan Maksud dan Tujuan Pengarang dalam hal Politik, maka dalam hal Budaya ini, pengarang mungkin juga memiliki maksud dan Tujuan untuk memasukkan suatu faham Budaya tertentu, yang kadang akan dilanjutkan dengan suatu tindakan yang real dalam memasyarakatkan budaya tersebut.
Contoh: Das Kapital karya Marxis.

4. Maksud dan Tujuan Pengarang tidak terkonsentrasi karena menulis hanya disebabkan karena kesenangan belaka.
Di sini, biasanya, tidak ada maksud-maksud secara spesifik dari penulis tentang sesuatu, hanya karena penulis atau pengarang memiliki hobi atau kesenangan di dalam menulis, maka ditulislah satu buku.
Contoh: Beberapa cerita fiksi.

5. Maksud dan Tujuan penulis Semata-mata ingin menyampaikan ilmu yang diketahuinya.
Di dalam buku yang penulis atau pengarangnya semata-mata menyampaikan ilmu yang diketahuinya ini, tidak ada suatu Maksud dan Tujuan tertentu sebagaimana hal di atas.
Tidak ada maksud untuk tujuan politik, tidak ada maksud di masalah Ekonomi, tidak ada maksud di masalah Budaya, tidak ada maksud hanya untuk kesenangan penulis belaka, melainkan karena terdorong untuk menyampaikan ilmu yang dimilikinya, maka penulis mengarang atau menulis suatu buku.
Contoh: Ihya Ulumudin karya Imam Ghozali.





6. Maksud dan Tujuan penulis atau pengarang Buku adalah untuk Menyesatkan Logika.
Perlu dipahami, bahwa setiap buku yang kita baca, pastilah secara hukum alam, akan kita serap melalui otak, yang berarti isi dari buku itu kita serap berdasarkan logika kita.
Dan untuk buku-buku dengan tujuan menyesatkan logika ini, sangatlah berbahaya untuk dibaca bagi orang-orang yang logikanya kurang kuat.
Karena secara halus, tidak kita sadari, akan ada penyimpangan-penyimpangan di dalam logika kita nantinya setelah membaca buku ini.
Contoh: MADILOG karya Tan Malaka. Wedharan Wirid jilid III.
(bersambung)
ILMU MEMBACA BUKU [2]

II. Macam-macam Isi dari Buku.
Isi dari buku, bisa kita kategorikan dalam beberapa klasifikasi:
1. Fiksi.
Jika suatu buku, semata-mata adalah hasil Imajinasi , hasil fantasi dari si pengarang.
Contoh: Novel-novel.

2. Fiksi sejarah, Fiksi Ilmiah, Fiksi yang digabung dengan kenyataan.
Jika suatu buku merupakan gabungan dari fantasi si pengarang dan kenyataan baikpun itu kenyataan dalam bidang sejarah, dalam bidang ilmiah, dalam bidang keagamaan atau yang lainnya.
Contoh: karya-karya Kho Ping Hoo

3. Keilmuwan, yang bisa dibagi dua, Keilmuwan dibidang Sosial, Keilmuwan dibidang Pengetahuan Alam.
Buku di bidang keilmuwan di bidang Sosial termasuk di dalamnya tentang ilmu-ilmu filosofi Sosial, ilmu-ilmu pelajaran sosial, dll.
Buku-buku di bidang Pengetahuan Alam termasuk di dalamnya tentang filosofi ilmu Alam, ilmu-ilmu pelajaran bidang ilmu Alam, seperti Fisika, Kimia, Biologi, dll.
Contoh: Beberapa Buku-buku pelajaran yang kita terima dari pendidikan formal.

4. Agama.
Buku-buku di bidang Agama ini, sebanyak agama yang ada di dunia, baikpun itu Kitab suci yang ada, maupun penjelasan atau pengertian-pengertian atau tafsir-tafsir dari praktek keagamaan.
Dalam masalah keagamaan ini, Kitab Suci saya masukkan di dalam kategori Buku atau Kitab, karena sama-sama kita maklumi bahwa Kitab Sucipun setelah ditulis, tulisan atau kitab itu merupakan hasil karya manusia, meskipun isinya diyakini berasal dari sang Pencipta.
Contoh: Banyak....


II. Latar Belakang Pengarang.
Latar Belakang Pengarang ini, bisa kita bedakan dari
1. Bidang keilmuwan yang dikuasainya.
Misalkan saja, seorang Dr. Hewan menulis suatu buku tentang kejiwaan seseorang, maka kita bisa mengatakan bahwa buku itu tidak ditulis oleh ahlinya.
Contoh: Buku,Mengenal Jati Diri Manusia, karya salah seorang lulusan Teknik ITB.

2. Proses Pencarian dari si Pengarang.
Contoh di atas akan menjadi berbeda misalkan, meskipun seorang Dr.Hewan, tetapi secara otodidak, atau dia telah mempelajari ilmu kejiwaan melalui jalur informal yang dapat dipercaya, maka buku tentang kejiwaan yang ditulis oleh Dr.Hewan itu bolehlah kita bilang bahwa itu ditulis oleh orang yang ahli dibidang kejiwaan pula.
Contoh: Kitab tahafut al falasifah karya Imam Ghozali, Imam Ghozali secara keilmuwan formal bukanlah lulusan perguruan tinggi jurusan Filsafat, tetapi beliau otodidak menulis tentang filsafat.
Atau Bukunya Dibawah Bendera Revolusi karya Ir Sukarno, beliau lulusan teknik, tetapi otodidak ahli dibidang politik.

III. Macam-macam Kedalaman dari Isi.
Dilihat dari kedalaman, bisa kita kategorikan dalam beberapa bagian.
1. Suatu buku tentang sesuatu yang ditulis oleh ahlinya dan semata-mata untuk menyampaikan ilmu yang diketahuinya, menduduki peringkat awal sebagai buku yang isinya bisa kita pelajari secara serius.
Contoh: kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghozali.

2. Tetapi, suatu buku yang isinya ditulis karena tujuan dan Maksud tertentu yang itu bukan dimaksudkan untuk menyampaikan ilmu, maka isinya tidak bisa kita pelajari, ataupun kita teliti ataupun kita analisa secara serius.
Baikpun itu karena ada maksud dan tujuan masalah politik misalnya, ataupun karena ada maksud dan tujuan masalah Ekonomi, atau Budaya, ataupun kesenangan belaka, buku-buku seperti ini sebaiknya dibaca sambil lalu saja, karena sedikit sekali ilmu yang bisa kita ambil dari buku-buku yang dilandasi maksud dan tujuan demikian.
Contoh: Banyak...

Di sinilah, akan kita lanjutkan dengan membahas kedalaman dari buku-buku yang memang dengan maksud dan tujuan karena semata-mata menyampaikan ilmu yang diketahuinya.



Maka perhatikanlah beberapa hal seandainya engkau membaca buku-buku seperti ini.
1. Siapakah pengarangnya ??
Nama kadang bisa saja sama, tetapi orangnya berlainan, yang berarti pemikirannya akan berlainan pula.
Contoh: penulis atau pengarang terkenal, ada Imam Ghozali, ada Imam al-Ghozali, yang ternyata adalah dua orang yang berbeda.
Penulis Imam Suhrawardi, ternyata yang memiliki nama ini ada 2 orang ( setahu saya )

2. Bagaimanakah bidang keilmuwannya ??
Apakah bisa kita kategorikan pengarangnya adalah ahlinya dari sudut formal pendidikan pengarangnya, ataukah ahlinya karena proses nonformal dari pendidikan pengarangnya, ataukah yang menulis buku itu bisa dikategorikan bukan ahlinya.

Contoh: Dari latar belakang pengarang, biasanya kita tahu bahwa seseorang itu expert atau tidak dalam masalah yang ditulisnya.

3. Saat buku itu ditulis, bagaimanakah bidang keilmuwan pengarangnya ??
Apakah dia sudah bisa dikategorikan benar-benar ahli, ataukah masih dalam proses sebagai ahli, atau masih ½ ahli atau masih ¼ ahli, dll.
Contoh: Banyak karya ibnu Taimiyah yang membahas tentang tasawuf, padahal waktu buku itu ditulis, beliau belum pernah mendalami tasawuf.
Hal ini berbeda, setelah di akhir hayatnya, beliau saat di dalam penjara, kemudian beliau mendalami tasawuf, dan kemudian menulis kitab tentang tasawuf.
Contoh lain: Buku-buku karya Imam Ghozali, bedakan saat beliau masih menjadi rektor atau guru besar satu pendidikan tinggi (sebelum beliau mendalami tasawuf) dan sesudah beliau mendalami tasawuf).
Saat kita ingin memahami ilmu tasawuf, maka carilah buku-buku Imam Ghozali saat beliau sudah mendalami tasawuf, dan jangan buku karangan beliau saat beliau belum mendalami tasawuf.

4. Apakah itu kategori buku-buku yang isinya adalah ilmu yang sederhana ???
Semua lapisan bisa memahami untuk isi buku yang demikian, baikpun itu untuk pembaca tingkat pendidikan rendah, maupun kalangan umum lainnya.
Contoh: kitab-kitab Fiqih, Ushuludin, dll.

5. Apakah itu kategori buku-buku yang isinya adalah ilmu menengah ???
Sebagian orang bisa memahami sebagian tidak.
Contoh: Kasful Mahjub karya AL Hujwiri, Awarif al Ma'arif karya Imam Suhrawardi, Risalah al Qusyoiri karya Imam al Qusyoiri.

6. Ataukah kategori buku-buku yang isinya adalah ilmu yang rumit-rumit ???
Bisa diistilahkan merupakan ilmu lanjutan, yang memerlukan pembaca juga seorang yang minimal sudah memiliki dasar keilmuwan yang sama atau memiliki dasar pemahaman yang dapat menangkap isi dari buku ini.
Contoh: Daqoikul Akbar, Futuhat al Makiyah karya Imam Arobi, Musyawarah Burung karya Fariduddin attar, Tahafut al falasifah karya Imam Ghozali,
Durun nafis karya Muhammad Syech al Banjari. Martabat tujuh karya Syeh Muhyiddin, menyoal "Wahdatul Wujud" karya Abdurrauf Singkel, dll.

Khusus untuk buku-buku yang rumit ini, ada baiknya, meskipun rasa ingin tahu anda besar, ada baiknya anda memiliki pembimbing di dalam memahami buku-buku yang rumit itu.

Karena buku-buku yang rumit-rumit ini dapat menyebabkan Akal Pikir kita tidak mampu menerima, yang justru hanya akan mendapatkan kebingungan-kebingungan atau malahan bahayanya apabila ada kesalah pahaman di dalam masalah iktiqod yang ternyata yang kita pahami salah atau tidak sesuai dengan maksud si pengarang buku.

Dengan memahami beberapa hal di atas, dimaksudkan di dalam membaca suatu kitab, kita tidak "Menyama ratakan", atau "nggebyah uyah", sehingga diharapkan dapat menempatkan segala sesuatu pada tempatnya..

Moga-moga Alloh melimpahkan rohmat berkat serta hidayahnya pada kita semua dan semoga apa yang saya tulis ini membawa manfaat bagi kita semua dan dipahami sebagaimana mestinya.
Kepribadian sangat penting sekali untuk membuat anda dan juga teman - teman anda merasa nyaman dengan anda..Berikut ada tips - tips untuk melatih kepribadian anda, yang mudah - mudahan dapat dipraktekkan dan diimplementasikan ke dalam kehidupan anda. Jangan biarkan stress dan pikiran negatif mengubah anda menjadi murung, tetaplah gembira dengan latihan kepribadian berikut ini:

• Tetap tersenyum

Usahakan tetap tersenyum betapapun anda memiliki hari-hari yang tidak menyenangkan. Hal ini mungkin terasa seperti terpaksa saat itu tapi anda kemudian akan terheran-heran begitu besar senyum dapat meningkatkan spirit anda. Sepertinya memang sulit untuk tersenyum, apalagi setelah ada maslah yang sangat berat,,mis : nilai ujian yang kurang bagus,seperti saya baru - baru ini mendapatkan nilai yang kurang bagus, tapi saya tetap tersenyum dan saya merasakan ketenangan yang sangat luar biasa, kalau menurut saya nilai kurang bagus itu dikarenakan sebelumnya saya kurang belajar dan menyepelekkan ujian tersebut, jadi yang saya lakukan yaitu mencoba lebih baik, dan akan diimplementasikan dari sekarang, sehingga ujian berikutnya menjadi lebih baik,,saya berani jamin.

• Pandai mengontrol diri
Mengontrol diri sangat menyulitkan memang, tetapi jika anda sudah dapat menguasainya, maka akan mendapatkan ketenangan yang tak ternilai, Ekspresi wajah merupakan salah satu tanda yang menggambarkan perasaan anda yang paling mudah dikenali. Usahan ekspresi mimik muka anda netral sekalipun ketika anda tengah marah atau stress dan jangan biarkan dahi berkerut karena kerutan itu perlahan-lahan akan membuat anda nampak lebih tua.

• Tetap berkomunikasi
Menutup dan menolak berkomunikasi secara emosio hanya bakal membuat masalah lebih runyam jika hari-hari anda telah penuh dengan kegelisahan dan ketegangan. Tidak masalah apapun situasinya, cobalah membuat segala sesuatu mudah dan teratur dengan membiarkan berkomunikasi kepada teman atau rekan kerja anda.

• Rasakan perasaan orang
Pikirkan bagaimana anda ingin diperlakukan orang lain sebelum anda memuntahkan perasan kesal pada orang lain. Tak ada seorangpun di sekitar anda yang ingin menjadi objek cemberut anda. Jika anda tidak ingin diperlakukan seperti itu, jangan memperlakukan orang lain seperti itu.

• Miliki rasa humor
Seberapapun beratnya hari-hari anda, cobalah untuk tidak menghilangkan perasaan humor. Humor sangat penting untuk mempertahankan keharmonisan pertemanan anda.Tertawa itu baik bagi jiwa dan membantu membuat orang di sekitar anda merasa lebih baik dan tujukan anda memiliki kpribadian baik.
Berpikir tidaklah memerlukan waktu, tempat ataupun kondisi khusus.
Seseorang dapat berpikir sambil berjalan di jalan raya, ketika pergi
ke kantor, mengemudi mobil, bekerja di depan komputer, menghadiri
pertemuan dengan rekan-rekan, melihat TV ataupun ketika sedang makan
siang.
Misalnya: di saat sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan
orang berada di luar. Ketika menyaksikan mereka, ia terdorong untuk
berpikir tentang berbagai macam hal. Dalam benaknya tergambar
penampilan fisik dari ratusan orang yang sedang disaksikannya yang
sama sekali berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara mereka yang
mirip dengan yang lain. Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang
ini memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama mempunyai
mata, alis, bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi
mereka terlihat sangat berbeda satu sama lain. Ketika berpikir
sedikit mendalam, ia akan teringat bahwa:
Allah telah menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun,
semuanya berbeda satu dengan yang lain. Ini adalah bukti nyata
tentang ke Maha Perkasaan dan ke Maha Besaran Allah. Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju

tempat tujuan mereka masing-masing, dapat memunculkan beragam pikiran
di benak seseorang. Ketika pertama kali memandang, muncul di
pikirannya: manusia yang jumlahnya banyak ini terdiri atas individu- individu yang khas dan unik. Tiap individu memiliki dunia, keinginan,
rencana, cara hidup, hal-hal yang membuatnya bahagia atau sedih,
serta perasaannya sendiri. Secara umum, setiap manusia dilahirkan,
tumbuh besar dan dewasa, mendapatkan pendidikan, mencari pekerjaan,
bekerja, menikah, mempunyai anak, menyekolahkan dan menikahkan anak- anaknya, menjadi tua, menjadi nenek atau kakek dan pada akhirnya
meninggal dunia. Dilihat dari sudut pandang ini, ternyata perjalanan
hidup semua manusia tidaklah jauh berbeda; tidak terlalu penting
apakah ia hidup di perkampungan di kota Istanbul atau di kota besar
seperti Mexico, tidak ada bedanya sedikitpun. Semua orang suatu saat
pasti akan mati, seratus tahun lagi mungkin tak satupun dari orang- orang tersebut yang akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini,
seseorang akan berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri: "Jika
kita semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang
menyebabkan manusia bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan
pernah meninggalkan dunia ini? Seseorang yang akan mati sudah
sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk kehidupannya setelah
mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakuan seolah-olah
hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?"
Orang yang memikirkan hal-hal semacam ini lah yang dinamakan orang
yang berpikir dan mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa
yang ia pikirkan.
Sebagian besar manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan
apa yang terjadi setelahnya. Ketika mendadak ditanya,"Apakah yang
sedang anda pikirkan saat ini?", maka akan terlihat bahwa mereka
sedang memikirkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk
dipikirkan, sehingga tidak akan banyak manfaatnya bagi mereka. Namun,
seseorang bisa juga "berpikir" hal-hal yang "bermakna", "penuh
hikmah" dan "penting" setiap saat semenjak bangun tidur hingga
kembali ke tempat tidur, dan mengambil pelajaran ataupun kesimpulan
dari apa yang dipikirkannya.
Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman
memikirkan dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada
dan mengambil pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan. "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah
kami dari siksa neraka." (QS. Aali `Imraan, 3: 190-191).
Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman
adalah mereka yang berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang
menakjubkan dari ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta
Kebijaksanaan Allah.

Dalam ayat di atas, Allah bertanya kepada manusia, "…maka dari jalan
manakah kamu ditipu (disihir)?. Kata disihir atau tersihir di sini
mempunyai makna kelumpuhan mental atau akal yang menguasai manusia
secara menyeluruh. Akal yang tidak digunakan untuk berpikir berarti
bahwa akal tersebut telah lumpuh, penglihatan menjadi kabur,
berperilaku sebagaimana seseorang yang tidak melihat kenyataan di
depan matanya, sarana yang dimiliki untuk membedakan yang benar dari
yang salah menjadi lemah. Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran
yang sederhana sekalipun. Ia tidak dapat membangkitkan kesadarannya
untuk memahami peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi di
sekitarnya. Ia tidak mampu melihat bagian-bagian rumit dari peristiwa- peristiwa yang ada. Apa yang menyebabkan masyarakat secara
keseluruhan tenggelam dalam kehidupan yang melalaikan selama ribuan
tahun serta menjauhkan diri dari berpikir sehingga seolah-olah telah
menjadi sebuah tradisi adalah kelumpuhan akal ini.
Pengaruh sihir yang bersifat kolektif tersebut dapat dikiaskan
sebagaimana berikut:
Dibawah permukaan bumi terdapat sebuah lapisan mendidih yang
dinamakan magma, padahal kerak bumi sangatlah tipis. Tebal lapisan
kerak bumi dibandingkan keseluruhan bumi adalah sebagaimana tebal
kulit apel dibandingkan buah apel itu sendiri. Ini berarti bahwa
magma yang membara tersebut demikian dekatnya dengan kita, dibawah
telapak kaki kita!

Setiap orang mengetahui bahwa di bawah permukaan bumi ada lapisan
yang mendidih dengan suhu yang sangat panas, tetapi manusia tidak
terlalu memikirkannya. Hal ini dikarenakan para orang tua, sanak
saudara, kerabat, teman, tetangga, penulis artikel di koran yang
mereka baca, produser acara-acara TV dan professor mereka di
universitas tidak juga memikirkannya.
Ijinkanlah kami mengajak anda berpikir sebentar tentang masalah ini.
Anggaplah seseorang yang telah kehilangan ingatan berusaha untuk
mengenal sekelilingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada
setiap orang di sekitarnya. Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana
ia berada. Apakah kira-kira yang akan muncul di benaknya apabila
diberitahukan bahwa di bawah tempat dia berdiri terdapat sebuah bola
api mendidih yang dapat memancar dan berhamburan dari permukaan bumi
pada saat terjadi gempa yang hebat atau gunung meletus? Mari kita
berbicara lebih jauh dan anggaplah orang ini telah diberitahu bahwa
bumi tempat ia berada hanyalah sebuah planet kecil yang mengapung
dalam ruang yang sangat luas, gelap dan hampa yang disebut ruang
angkasa. Ruang angkasa ini memiliki potensi bahaya yang lebih besar
dibandingkan materi bumi tersebut, misalnya: meteor-meteor dengan
berat berton-ton yang bergerak dengan leluasa di dalamnya. Bukan
tidak mungkin meteor-meteor tersebut bergerak ke arah bumi dan
kemudian menabraknya.
Mustahil orang ini mampu untuk tidak berpikir sedetikpun ketika
berada di tempat yang penuh dengan bahaya yang setiap saat mengancam
jiwanya. Ia pun akan berpikir pula bagaimana mungkin manusia dapat
hidup dalam sebuah planet yang sebenarnya senantiasa berada di ujung
tanduk, sangat rapuh dan membahayakan nyawanya. Ia lalu sadar bahwa
kondisi ini hanya terjadi karena adanya sebuah sistim yang sempurna
tanpa cacat sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia tinggal, memiliki
bahaya yang luar biasa besarnya, namun padanya terdapat sistim
keseimbangan yang sangat akurat yang mampu mencegah bahaya tersebut
agar tidak menimpa manusia. Seseorang yang menyadari hal ini,
memahami bahwa bumi dan segala makhluk di atasnya dapat melangsungkan
kehidupan dengan selamat hanya dengan kehendak Allah, disebabkan oleh
adanya keseimbangan alam yang sempurna dan tanpa cacat yang
diciptakan-Nya.
Contoh di atas hanyalah satu diantara jutaan, atau bahkan trilyunan
contoh-contoh yang hendaknya direnungkan oleh manusia. Di bawah ini
satu lagi contoh yang mudah-mudahan membantu dalam memahami
bagaimana "kondisi lalai" dapat mempengaruhi sarana berpikir manusia
dan melumpuhkan kemampuan akalnya.
Manusia mengetahui bahwa kehidupan di dunia berlalu dan berakhir
sangat cepat. Anehnya, masih saja mereka bertingkah laku seolah-olah
mereka tidak akan pernah meninggalkan dunia. Mereka melakukan
pekerjaan seakan-akan di dunia tidak ada kematian. Sungguh, ini
adalah sebuah bentuk sihir atau mantra yang terwariskan secara turun- temurun. Keadaan ini berpengaruh sedemikian besarnya sehingga ketika
ada yang berbicara tentang kematian, orang-orang dengan segera
menghentikan topik tersebut karena takut kehilangan sihir yang selama
ini membelenggu mereka dan tidak berani menghadapi kenyataan
tersebut. Orang yang mengabiskan seluruh hidupnya untuk membeli rumah
yang bagus, penginapan musim panas, mobil dan kemudian menyekolahkan
anak-anak mereka ke sekolah yang bagus, tidak ingin berpikir bahwa
pada suatu hari mereka akan mati dan tidak akan dapat membawa mobil,
rumah, ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya, daripada
melakukan sesuatu untuk kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka
memilih untuk tidak berpikir tentang kematian.
Namun, cepat atau lambat setiap manusia pasti akan menemui ajalnya.
Setelah itu, percaya atau tidak, setiap orang akan memulai sebuah
kehidupan yang kekal. Apakah kehidupannya yang abadi tersebut
berlangsung di surga atau di neraka, tergantung dari amal perbuatan
selama hidupnya yang singkat di dunia. Karena hal ini adalah sebuah
kebenaran yang pasti akan terjadi, maka satu-satunya alasan mengapa
manusia bertingkah laku seolah-olah mati itu tidak ada adalah sihir
yang telah menutup atau membelenggu mereka akibat tidak berpikir dan
merenung.
Orang-orang yang tidak dapat membebaskan diri mereka dari sihir
dengan cara berpikir, yang mengakibatkan mereka berada dalam
kelalaian, akan melihat kebenaran dengan mata kepala mereka sendiri
setelah mereka mati, sebagaimana yang diberitakan Allah kepada kita
dalam Al-Qur'an :
"Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka
Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka
penglihatanmu pada hari itu amat tajam." (QS. Qaaf, 50: 22) Dalam ayat di atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak
mau berpikir, akan tetapi penglihatannya menjadi tajam setelah ia
dibangkitkan dari alam kubur dan ketika mempertanggung jawabkan
segala amal perbuatannya di akhirat.
Perlu digaris bawahi bahwa manusia mungkin saja membiarkan dirinya
secara sengaja untuk dibelenggu oleh sihir tersebut. Mereka
beranggapan bahwa dengan melakukan hal ini mereka akan hidup dengan
tentram. Syukurlah bahwa ternyata sangat mudah bagi seseorang untuk
merubah kondisi yang demikian serta melenyapkan kelumpuhan mental
atau akalnya, sehingga ia dapat hidup dalam kesadaran untuk
mengetahui kenyataan. Allah telah memberikan jalan keluar kepada
manusia; manusia yang merenung dan berpikir akan mampu melepaskan
diri dari belenggu sihir pada saat mereka masih di dunia.
Selanjutnya, ia akan memahami tujuan dan makna yang hakiki dari
segala peristiwa yang ada. Ia pun akan mampu memahami kebijaksanaan
dari apapun yang Allah ciptakan setiap saat.

Pernahkah anda memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke
dunia ini; dan anda telah diciptakan dari sebuah ketiadaan? Pernahkan anda berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat
di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki
bau yang harum serta berwarna-warni?
Pernahkan anda memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu
ketika terbang mengitari anda, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan
yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya?
Pernahkan anda berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti
pisang, semangka, melon dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang
sangat berkualitas, yang membungkus daging buahnya sedemikian rupa
sehingga rasa dan keharumannya tetap terjaga?
Pernahkan anda berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara
tiba-tiba ketika anda sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah,
kantor dan kota anda hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo
beberapa detik saja anda pun kehilangan segala sesuatu yang anda
miliki di dunia ini?
Pernahkan anda berpikir bahwa kehidupan anda berlalu dengan sangat
cepat, anda pun menjadi semakin tua dan lemah, dan lambat laun
kehilangan ketampanan atau kecantikan, kesehatan dan kekuatan anda?
Pernahkan anda memikirkan bahwa suatu hari nanti, malaikat maut yang
diutus oleh Allah akan datang menjemput untuk membawa anda
meninggalkan dunia ini?
Jika demikian, pernahkan anda berpikir mengapa manusia demikian
terbelenggu oleh kehidupan dunia yang sebentar lagi akan mereka
tinggalkan dan yang seharusnya mereka jadikan sebagai tempat untuk
bekerja keras dalam meraih kebahagiaan hidup di akhirat?
Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun
sayang, kebanyakan mereka tidak menggunakan sarana yang teramat
penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian
manusia hampir tidak pernah berpikir.
Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang
seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan
kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak
mampu diketahuinya, lambat-laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin
dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal
ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari bahwa
tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan
akalnya semaksimal mungkin.

Buku ini ditulis dengan tujuan mengajak manusia "berpikir sebagaimana
mestinya" dan mengarahkan mereka untuk "berpikir sebagaimana
mestinya". Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari
kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan
kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam,
dan arti keberadaan dirinya di dunia. Padahal, Allah telah
menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana dinyatakan
dalam Al-Qur'an:
"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara
keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya
melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."
(QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu
secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan
kepada Kami?" (QS. Al-Mu'minuun, 23:115)

Oleh karena itu, yang paling pertama kali wajib untuk dipikirkan
secara mendalam oleh setiap orang ialah tujuan dari penciptaan
dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang ia lihat di alam sekitar
serta segala kejadian atau peristiwa yang ia jumpai selama hidupnya.
Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan mengetahui
kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia
mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah;
namun sayang sudah terlambat. Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa
pada hari penghisaban, tiap manusia akan berpikir dan menyaksikan
kebenaran atau kenyataan tersebut:
"Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu
ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu
baginya. Dia mengatakan, "Alangkah baiknya kiranya aku dahulu
mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini." (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia.
Berpikir atau merenung untuk kemudian mengambil kesimpulan atau
pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami
kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di
akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh
manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan
merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:
"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?,
Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang
ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar
ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." (QS. Ar-Ruum, 30: 8)
DUA
Berpikir secara Mendalam
Banyak yang beranggapan bahwa untuk "berpikir secara mendalam",
seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan
menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan
segala urusan yang ada. Sungguh, mereka telah menganggap "berpikir
secara mendalam" sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan.
Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk
kalangan "filosof".
Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam pendahuluan, Allah
mewajibkan manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung.
Allah berfirman bahwa Al-Qur'an diturunkan kepada manusia untuk
dipikirkan atau direnungkan: "Ini adalah sebuah kitab yang Kami
turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan
(merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang
yang mempunyai pikiran" (QS. Shaad, 38: 29). Yang ditekankan di sini
adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat
tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir. Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau berusaha untuk berpikir
mendalam akan terus-menerus hidup dalam kelalaian yang sangat. Kata
kelalaian mengandung arti "ketidakpedulian (tetapi bukan melupakan),
meninggalkan, dalam kekeliruan, tidak menghiraukan, dalam
kecerobohan". Kelalaian manusia yang tidak berpikir adalah akibat
melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan tujuan penciptaan
diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan hidup yang
sangat berbahaya yang dapat menghantarkan seseorang ke neraka.
Berkenaan dengan hal tersebut, Allah memperingatkan manusia agar
tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai:
"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan
rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan
petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al- A'raaf, 7: 205) "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu)
ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan
mereka tidak (pula) beriman." (QS. Maryam, 19: 39)
Dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir
secara sadar, kemudian merenung dan pada akhirnya sampai kepada
kebenaran yang menjadikan mereka takut kepada Allah. Sebaliknya,
Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para pendahulu
mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar
mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika
ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab
bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman
kepada Allah. Tetapi karena tidak berpikir, mereka sekedar melakukan
ibadah dan aktifitas hidup tanpa disertai rasa takut kepada Allah.
Mentalitas golongan ini sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an:
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya,
jika kamu mengetahui?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah
kamu tidak ingat?"
Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang
Empunya 'Arsy yang besar?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah
kamu tidak bertakwa?"
Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala
sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi
dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau
demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?"
"Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan
sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta." (QS. Al- Mu'minuun, 23: 84-90)

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang
sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak
paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?" "Ha?," kata jam
terperanjat, "Mana sanggup saya?"

"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?" "Delapan puluh
ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping
seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?" "Dalam satu jam
harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam
ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada
si jam. "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali
setiap detik?" "Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam
dengan penuh antusias.



Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali
setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu
dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu
tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti
ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

Renungan :

Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan
yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah
menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita
anggap impossible untuk dilakukan sekalipun.

Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.

Bila anda menganggap masalah sebagai beban, anda mungkin akan
menghindarinya. Bila anda menganggap masalah sebagai tantangan,
anda mungkin akan menghadapinya. Namun, masalah adalah hadiah
yang dapat anda terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam,
anda melihat keberhasilan di balik setiap masalah.

Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi.
Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda.
Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur keberhasilan.
Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai
hadiah.



Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada
anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan
pula, eraman hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika
mereka melempar anak-anak itu dari tebing yang tinggi. Detik
pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh
keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku. Sesaat kemudian,
bukan kematian yang mereka terima, namun kesejatian diri sebagai
elang, yaitu terbang. Bila anda tak berani mengatasi masalah,
anda tak kan menjadi seseorang yang sejati.

Bila anda melakukan sesuatu, ada kemungkinan anda membuat
suatu kesalahan. Bila anda membuat kesalahan, itu adalah
hal yang hebat. Karena anda berkesempatan belajar sesuatu.

Akui kesalahan anda, teliti dan pelajari secara mendalam.
Jawablah kesalahan anda tersebut. Kesalahan adalah guru
yang luar biasa. Dengan mengenal apa yang salah, anda
dibantu untuk menemukan apa yang benar.


Tom Watson, pendiri IBM, tahu persis nilai sebuah kesalahan. Suatu saat, seorang pegawai membuat kesalahan besar yang
merugikan IBM senilai jutaan dollar. Sang pegawai yang
dipanggil ke kantor Watson, berkata "Anda pasti menghendaki
saya mengundurkan diri." Jawab Watson, "Anda pasti bercanda.
Saya baru saja menghabiskan 10 juta dollar untuk mendidik
anda..."

Orang yang berbakat sukses, akan belajar dari apapun yang
terjadi, termasuk kesalahan. Bila anda membuat sebuah
kesalahan, hal yang terbaik adalah mengumpulkan kembali
keping-keping yang terserak, dan memperhatikan bagaimana
hal itu bisa terjadi.

Jangan menangisi kesalahan. Periksa dan pelajari kesalahan. Selanjutnya manfaatkan pengetahuan baru anda itu.

Charles Plumb, seorang lulusan Akademi Angkatan Laut AS, pernah jadi
penerbang jet di Vietnam. Setelah 75 misi pertempuran, pesawatnya
tertembak rudal-darat-keudara, Plumb sempat melompat keluar, turun
dengan payung udara dan jatuh ketangan musuh. Ia tertangkap dan
menghabiskan 6 tahun disebuah penjara Vietnam.
Ia berhasil melewati masa cobaan penuh siksaan itu dan kini memberi
kuliah tentang pelajaran2 berdasarkan pengalaman2nya itu.

Suatu hari, waktu Plumb dan istrinya sedang duduk disebuah restoran,
seorang pria yang duduk dimeja lain menghampirinya dan berkata, "Heee,
kamu kan Plumb! Kau yang menerbangkan jet2 tempur di Vietnam dari kapal
induk Kitty Hawk. Pesawatmu kan rontok!"

"Lho, dari mana anda tahu? tanya Plumb. "Aku yang
melipat dan menyiapkan parasutmu," jawab orang itu. Nafas Plumb
tersentak kaget dan penuh syukur. Orang itu membuat isyarat dengan
tangannya dan bilang, "Semuanya beres ya?" Plumb meyakinkan dia,
katanya, "Oh ya tentu saja. Beres dan hebat, sekiranya parasutmu
tidak mau buka, pastilah hari ini aku tidak ada disini."




Malam itu Plumb tak bisa tidur, terus memikirkan orang itu. Ia
bilang, "Aku terus menerus heran sendiri, bagaimana kira2nya rupa
orang itu bila berseragam AL, dengan sebuah topi putih, ada secarik
kain selempang dipunggungnya, dan celana2nya yang melebar dibawah.
Berapa sering ya, aku pernah melihatnya dan tidak pernah menyapanya
'Selamat pagi, apa kabar?' atau lainnya, karena aku pilot penempur
sedangkan dia cuma seorang marinir.

Plumb memikirkan dan membayangkan begitu banyaknya jam2 yang
dihabiskan marinir itu pada sebuah meja kayu didalam lambung kapal
itu, begitu teliti dan cermat merajut kain dan melipati sutra setiap
parasut, memegang didalam tangannya, setiap kali, nasib dan hidup
seseorang yang bahkan tidak ia kenal.

"Jadi sekarang," Plumb bertanya pada pendengarnya, "siapakah
yang menyiapkan parasutmu?" Setiap orang punya seseorang yang mem-
berikan dan menyediakan kebutuhannya untuk melewati setiap hari. Ia
juga menjabarkan bermacam parasut yang ia butuhkan waktu pada saat
pesawatnya tertembak jatuh di atas teritori musuh -- ia membutuhkan
parasut jasmani, juga parasaut mental, parasut untuk emosinya, dan
juga juga parasut spirituilnya. Ia mengandalkan pada semua dukungan
itu sebelum ia melayang turun dengan selamat.

~~~

Terkadang dalam menghadapi tantangan2 yang diberikan hidup ini, kita
lalai, luput dan mengabaikan apa yang sesungguhnya penting.
Kita mungkin lalai menyapa seseorang halo, maaf ya, mohon tolong,
atau berterima kasih, mengucap selamat pada seseorang pada suatu
peristiwa indah, memberikan pujian dan semangat, atau hanya sekedar cuma
berbuat baik tanpa alasan apapun.

Selagi kau jalani minggu ini, bulan ini, tahun ini, kenalilah orang2
yang membantu menyiapkan parasutmu. Ini kutulis dan kuceritakan
untuk-mu, ungkapan terima kasihku padamu untuk perananmu dalam
menyediakan dan mempersiapkan parasutku!

Dan aku harap engkaupun akan berbuat hal yang sama pada orang2 yang
telah membantu menyiapkan punyamu. Setiap kebaikan yang bisa kulaku-
kan, atau setiap keramahan yang bisa kutunjukkan, biarkan kukerjakan
sekarang juga, sebab belum tentu aku lewat sini lagi.



Anda pernah lihat iklan Coca Cola di televisi? Umumnya tema
dari iklan-iklan Coca Cola adalah optimisme. Coba lihat iklan
yang menggambarkan anak-anak yang ingin bermain layang-layang,
tetapi angin tak mau bertiup. Mereka nampak putus asa, tetapi
setelah minum sebotol Coca Cola, harapan dan semangat mereka
muncul kembali.



Menjalani kehidupan juga seperti itu. Tak perlu bersusah hati
atau putus asa, bila menghadapi kesulitan. Bila kita mampu
menjalani kehidupan dengan bersemangat, maka beban seberat
apapun akan terasa ringan. Bila kita tak pernah kehilangan
harapan dan selalu optimis, kita akan selalu menemukan jalan
keluar dari suatu masalah.

Lakukan segala sesuatunya dengan upaya terbaik anda. Yaitu,
dengan sekuat tenaga, kecerdasan tinggi, dan sepenuh hati.
Anda pun akan mampu menahan beban yang berat, memecahkan
persoalan yang rumit dan menikmati kehidupan kerja anda.
Namun, setelah itu pandanglah hasil kerja anda dari kejauhan.
Akuilah bahwa anda tak mungkin mengetahui semua hal. Oleh
karenanya, anda tak memiliki kekuasaan untuk memastikan bahwa
semua upaya anda akan berhasil. Tugas anda adalah berusaha
sebaik mungkin. Itu saja.



Harapan terkadang menjadi beban. Itu bila anda beranggapan
bahwa semua harapan yang setinggi langit itu harus terwujud.
Anda tak berhak mengucapkan kata "harus". Sungguh berbeda
antara menaruh harapan dengan memaksakan kehendak. Anda boleh
berkemauan. Untuk itu anda harus berupaya. Namun, anda tak
memiliki hak untuk memutuskan apakah kenyataan akan sesuai
dengan harapan. Sekali lagi, berusahalah sebaik mungkin.
Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik.
Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia.
Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin saja anda mengalami
pengalaman buruk yang tak mengenakkan, maka keburukan itu hanya
karena anda melihat dari salah satu sisi mata uang saja. Bila
anda berani menengok ke sisi yang lain, anda akan menemukan
pemandangan yang jauh berbeda.

Anda tidak harus menjadi orang tersenyum terus atau menampakkan
wajah yang ceria. Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya
terpampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu
rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis.


Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu mereka mengalir
menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali
keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan
tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di samudra, setiap tetes
air tahu, suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke
pucuk-pucuk gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur.
Sebagian kembali ke laut. Adakah sesuatu yang sia-sia dari
setiap tetes air yang anda temui di selokan rumah anda?





Seorang pria telungkup di tengah lapangan yang luas di bawah teriknya sinar matahari, dengan tas disampingnya. Lalu segerombolan orang menghampiri dan memeriksa keadaan pria tersebut. Meninggal, kata salah satu orang gerombolan tersebut. Mereka kemudian sepakat membuka tas disamping pria itu dan mencari tahu apa yang sebenarnya yang terjadi. Ternyata mereka semua berpikiran sama, andai tas itu terbuka sesaat sebelumnya, maka pria tersebut mungkin tidak meninggal dalam keadaan seperti ini.

Apakah isi tas itu?? Hayo apa ayoo? Ternyata isi tas itu adalah parasut. Parasut itu gagal terbuka pada saat si pria melakukan terjun payung. Memang sangat menyedihkan dan naas. Parasut jadi penentu keselamatan jiwa para penerjun payung. Dan...begitu jugalah hati kita. Hati hanya akan berfungsi jika dalam keadaan terbuka, open heart-lah istilahnya gitu. Hati akan menjadi penyelamat. Kita akan menyerap petunjuk lebih mudah, menerima hidayah lebih mudah dan berprilaku lebih mulia. Jangan biarkan hati tertutup dengan butir-butiran kotoran hati, yang akan kian menebal jika tidak segera dibersihkan. Karena pada keadaan tertentu, kotoran hati tidak dapat dibersihkan dengan hanya sekali-dua kali kilapan 'wing porselen'!! Kotoran hati tersebut sudah menjadi bagian dari prilaku dan sikap keseharian manusia. Oleh karena itu :



"Perhatikanlah hatimu karena ia akan menjadi fikiranmu
Perhatikanlah fikiranmu karena ia akan menjadi perkataanmu
Perhatikanlah perkataanmu karena ia akan menjadi perbuatanmu
Perhatikanlah perbuatanmu karena ia akan menjadi kebiasaanmu
Perhatikanlah kebiasaanmu karena ia akan menjadi karaktermu
Dan Perhatikanlah karaktermu karena ia akan menjadi lintasan hatimu"

Semuanya kembali kediri kita masing-masing. Tanyakan pada diri sendiri apa yang akan terlintas dalam hati kita pada saat ini, saat itu, dalam keadaan ini, dan jika berada dalam keadaan itu. Karena kalau bukan diri sendiri yang bertanya lalu siapa lagi, masa gue si?? hehe..
'just try to do better'


Ketika kita masih muda, kita memiliki impian-impian dan
harapan-harapan. Kita membayangkan banyak hal, kita terus
berpikir tentang apa yang kita inginkan, apa yang kita ingin
kerjakan, apa yang membuat kita bangga dan bahagia dan apa
jadinya kita kemudian.

Kita bertumbuh, dan banyak hal sepertinya memiliki jalannya
sendiri-sendiri. Kita menerima keberhasilan dan kegagalan
kita dan maju terus. Perubahan yang cepat, kebutuhan untuk
melakukan hal-hal yang penting, pekerjaan, tekanan dan
kegagalan, semuanya membinasakan sebagian dari visi kita.

Banyak hal telah berubah, tapi tidak dapat mengambil alih
impian kita. Kita masih harus bermimpi, membayangkan hasrat
kita, keinginan kita, visi kita di masa depan, bahkan ketika
kita dianggap terlalu tua untuk melakukan hal-hal seperti ini.



Kolonel Sanders memulai usahanya ketika dia berumur 60 tahun,
dan mulai meraih sukses yang menyeluruh dalam usaha KFC.
Hal utama bukanlah usia, apakah terlalu tua atau terlalu muda,
melainkan keinginan untuk terus bermimpi, dan keberanian untuk
menyadarinya.

Membayangkan dengan gamblang, membawanya dalam tidur, berpikir
terus menerus mengenainya, membicarakannya, merencanakannya,
menambah semua bumbu dalam mimpi-mimpi kita, hal ini akan
membawa kita lebih dekat dalam merealisasikan mimpi-mimpi kita.

Entreprenership mulai dengan sebuah impian, sebuah keinginan
yang sederhana akan restaurant kecil, atau bisnis pengembang
real estate yang besar, atau sebuah pusat pendidikan bahasa
Inggris yang sedang-sedang saja, atau hanya usaha swakarsa
lainnya untuk memperoleh uang secara menyenangkan.

Kemampuan untuk bermimpi terus adalah salah satu kualitas yang
baik dari umat manusia yang tidak dimiliki oleh spesies yang
lain. Oleh karena itu, bermimpilah terus dan tetapkan batas
akhir; buatlah menjadi impian yang besar, yang kecil, yang
abadi, yang baru, yang berkaitan dengan hobby, yang merubah
hidup, yang religius, yang bodoh, yang jenius, atau apapun ...
hanya teruslah bermimpi .... Kemudian, majulah dan kerjakan!