LOng Time At the night

Hari itu sungguh cepat sekali berlalu,,gw sama sahabat-sahabat gw ngumpul di kostan temen gw ,,bWt ngerjain tuGas,,.wUiiiih tpi seru bGd dh cZ hari itu bNer2 dibilang ngaco,ngaco bgd…wktu itu gw nyampe kostn abiz isya truz niatnya qta mw jLan2 dLu klwar,,,maklum aNaq kuliahn gDa kerjaan,hEeee…

Awalnya qt mw jLan ke sUatu t4 yg aSik bGd,,tPi krn cm ada satu mtor jadinya qta gjd dh,cz t4 itu lumayan jauh dari kostn,,pStinya tKut ditilang,hehehehee..

sebenernYa udah Ptus asa mw nGApain,, tPi aKhirNya qta aDa ide bWt k t4 tOngkrongan yG lain wLaupun jauh lBih baiq t4 sebelumnya dibandingkan yang ini,,tPi aPa boleh buaT daripaDa berLumut diKostn sMpe pGi,,hehehehe…



aKhirnYa qta jLan dh,,sMpe qTa naek Mtor b3 kYa anq Betawi zaman dlu,hehehehe(maaf buat org Betawi)
yG pnting qta jLan kLwar aja,heheheheheheheh…

yAh gk yg aNeh2 kq,,qTa dsaNA cm mUter2 uDh cape,,,mKan dh dPinggiran,,hehehehe…brU dh biZ tu puLng….

huIgh,,,
sBlum iTu qTa bLi peRsiapan bWt nti mLm eMg seh qta bLi seadanYa cz emg keadaan dOmpet Yg sDang LowbaT,,heuheu…

aKhirnya qta mMulai mLam iTu,hehehehe…
malam yg aNeh sePnjang hari qTa,hehehehe…
pKoknya just the three oUr is kNow that Night until next day iN thE aFternoon I’m gOing hOme,,,eNd tHat daY is tHe eNd..

Create
Doni


Negara Indonesia merupakan negara yang sangat saya cintai, terutama dikarenakan saya lahir dan dibesarkan di negara ini jadinya saya harus bertanggung jawab menjaga keutuhan wilayah negara indonesia ini, dikarenakan Luasnya wilayah Indonesia yang sebenarnya dapat menjadi potensi yang sangat besar, ditambah lagi dengan tanahnya yang subur dan kekayaaan alamnya yang melimpah. Namun, akhir-akhir ini luasnya negeri yang dihuni oleh sedikitnya 200 juta jiwa itu justru rawan konflik yang dapat mengikis potensinya. Konflik yang sangat berbahaya dan harus mendapat perhatian serius adalah konflik yang mengarah pada separatisme, seperti yang terjadi di Aceh, Ambon (Maluku), dan Papua. Saya tertarik untuk mempublikasikan kembali artikel ini untuk mengingat kembali tentang keselamatan wilayah Indonesia ini.

Gerakan separatis yang mengarah pada pemisahan diri dari Indonesia harus dicermati agar pintu masuknya penjajah, baik Amerika Serikat (AS), Inggris maupun Uni Eropa, dalam rangka mengendalikan Indonesia dapat ditutup rapat-rapat. Kita harus belajar dari kasus Timor Timur, di mana upaya internasionalisasi konflik domestik tersebut pada akhirnya mengokohkan intervensi negara-negara asing untuk memisahkan wilayah konflik tersebut dari wilayah induknya, Indonesia. Begitu diinternasionalisasi, maka persoalan tersebut sulit untuk ditarik kembali menjadi persoalan domestik. Ini tampak dari begitu sulitnya pemerintah untuk menarik kembali persoalan Aceh dan Papua menjadi sebatas persoalan domestik. Sementara itu, persoalan Maluku pun terus ditarik agar menjadi masalah internasional. Proses internasionalisasi persoalan ini harus kita waspadai karena bisa dijadikan sarana untuk memecah-belah negeri Muslim terbesar Indonesia, seperti yang terjadi terhadap Timor Timur.

Upaya Internasionalisasi Aceh, Papua, dan Maluku

Dalam kasus Aceh, kita memang tahu bahwa konflik yang berlangsung di sana telah berlangsung puluhan tahun. Sementara kebijakan yang dilakukan selama ini oleh pemerintah, terbukti kurang efektif. Ini terjadi karena persoalan Aceh adalah persoalan politik, yang semestinya tidak bisa hanya diselesaikan secara militeristik. Persoalan politik di Aceh jelas sekali tidak bisa dilepaskan dari campur tangan negara-negara imperialis asing yang terus-menerus memprovokasi terjadinya perlawanan di sana. Karena itu, selain penyelesaian secara militeristik, seharusnya pemerintah menempuh sejumlah manuver politik untuk membongkar apa yang sesungguhnya terjadi di Aceh. Namun sayang, yang dilakukan justru sebaliknya. Pemerintah bahkan menyerahkan persoalan ini kepada lembaga-lembaga asing. Maka, tidak heran jika persoalan separatisme di Aceh akhirnya digiring untuk menjadi agenda internasional. Hal ini terlihat pada sejumlah fakta berikut ini:

1. Pimpinan GAM, Hasan Tiro berdiam di luar negeri, Swedia. GAM hanya mau melakukan pertemuan-pertemuan yang diadakan di luar negeri.

2. Adanya peran LSM The Henry Dunant Centre (HDC) dan negara-negara donor (AS, Uni Eropa, Jepang, dan Bank Dunia) yang memfasilitasi upaya penyelesaian secara kompromi antara pemerintah dan GAM. Satu hal yang perlu dicatat, bahwa HDC adalah organisasi yang berpusat di AS. Sementara itu, Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Muhammad Djali Yusuf, ketika itu (Juli 2002), pernah memberikan peringatan kepada LSM internasional HDC. Sebab, lembaga ini diduga telah menjadi mata-mata untuk kepentingan kelompok GAM (Kompas Cyber Media, 10/07/2002).

3. Bila sebelumnya yang menjadi mediator adalah HDC, kini dialihkan ke Uni Eropa yang dipimpin oleh Inggris.

4. Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan ditarik dari Aceh. Lalu, Uni Eropa akan mengirim sekitar 200 personel militer ke Nanggroe Aceh Darussalam. Untuk tidak terkesan adanya pasukan asing, mereka sengaja mengenakan pakaian sipil. Jadi, yang menjadi penjaga keamanan di negeri ini sendiri, bukan lagi TNI, melainkan militer asing (Uni Eropa). Sungguh aneh.

5. Di Aceh sendiri, pasca tragedi tsunami telah hadir lebih dari 100 LSM asing. Fakta di lapangan menunjukkan, bahwa program utama mereka adalah mengubah pola mental dan struktur sosial masyarakat. Ujungnya, masyarakat Aceh yang memiliki kultur Islam dijauhkan dari kultur mereka dan dialihkan menjadi kultur sekuler. Untuk bisa melakukan upaya disintegrasi, negara-negara imperialis tersebut biasanya membentuk organisasi-organisasi yang terkesan non politis seperti misionaris, kemanusiaan, dan keilmuan. Mereka umumnya menggunakan baju LSM. Tentu saja organisasi ini hanyalah kedok belaka untuk memuluskan upaya negara-negara imperialis dalam melakukan disintegrasi di negeri-negeri Islam.

Ingat, ketika mereka dahulu memecah-belah Khilafah Islam. Negara-negara Kafir Imperialis itu sengaja mengirim agen-agen mereka dengan menyamar sebagai misionaris yang dengan terbuka bergabung dalam bebagai bentuk misi kemanusiaan dan keilmuan. Beberapa organisasi tersebut antara lain Association of Arts and Science (1842) yang berada di bawah perlindungan misi Amerika, the Oreintal Association (1880) yang didirikan oleh perwalian Jesuit Perancis, dan Syrian Scientific Assocation (1857) yang sebagian besar anggotanya adalah orang-orang Arab.

Sementara konflik di Papua merupakan konflik paling kompleks yang pernah ada di Indonesia setelah merdeka. Di Papua, konflik politik, konflik adat, konflik ekonomi, dan konflik hukum bercampur-aduk menjadi satu. Ada sekitar 250 suku yang beragam di Papua; masing-masing bisa saling serang. Konflik politik di Papua ini jika tidak diatasi segera, bisa menjadi lebih buruk daripada konflik di Aceh. Dunia internasional lebih mudah menyambut Papua merdeka, ketimbang Aceh merdeka. Papua tidak membawa aroma Islam yang saat ini tidak disukai dunia Barat.

Belakangan ini bendera Bintang Kejora sering dikibarkan di Papua. Bintang Kejora dan lagu kebangsaan Hai Tanahku Papua merupakan salah satu simbol Nasionalisme Papua yang menghendaki wilayah Papua Barat (Irian Barat/Irian Jaya) menjadi negara-bangsa (nation-state) yang merdeka dan berdaulat penuh. Nasionalisme Papua seperti ini pada awalnya dibangun oleh Pemerintah Belanda, terutama pada masa menjelang pelaksanaan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, bahkan sejak tahun 1945.

Sejak awal, pengibaran Bintang Kejora ini telah dilarang oleh pemerintah Indonesia. Bahkan larangan itu mengakibatkan meletusnya pemberotakan bersenjata pertama di Manokwari (26 Juli 1965) yang dimotori oleh Mandatjan dan Awom bersaudara dengan dukungan politikus senior John Ariks. Penyerangan terhadap kompleks TNI di Manokwari yang dilanjutkan dengan menjalarnya pemberontakan bersenjata ke seluruh wilayah Kepala Burung itulah yang dinyatakan sebagai hari lahirnya Organisasi Perjuangan Menuju Kemerdekaan Papua Barat, organisasi yang oleh Pemerintah Indonesia dan aparat keamanan sering disebut sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM). Seorang doktor Ilmu Administrasi Negara lulusan Amerika Serikat, Thomas Wanggai, kembali mengibarkan Bintang Kejora secara atraktif di stadion Mandala Jayapura pada 14 Desember 1988. Demikianlah, sampai hari ini pengibaran Bintang Kejora masih terjadi di berbagai tempat di Papua.
Terlepas dari cara apa pun yang pernah dilakukan oleh PBB dan Indonesia dalam proses penyatuan kembali Papua Barat kepada Indonesia, proses politik dari sisi internasional sudah selesai. Pada Juli - Agustus 1969 di Papua diadakan Referendum 1969 atau Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Pada Sidang Umum PBB (September-Oktober 1969), AS mendukung hasil Pepera yang menyatakan bahwa sebagian besar rakyat Papua memilih integrasi dengan Indonesia. Kemudian dikukuhkan PBB melalui Resolusi 2504 tanggal 19 November 1969. Sejak itu ada pengakuan internasional atas kedaulatan Indonesia yang mencakup Papua.

Tetapi, kini tuntutan pemisahan diri Papua dari Indonesia mencuat kembali. Peristiwa ini tampak tidak dapat dilepaskan dari upaya Barat, khususnya AS, yang selalu berada di belakang separatisme, bila hal itu bisa menguntungkan mereka. Hal tersebut diindikasikan antara lain oleh:

1. Kehadiran Sekretaris I Kedubes Amerika pada Kongres Papua dan kehadiran utusan Australia, Inggris dan negara-negara asing lainnya. Kongres Rakyat Papua yang berlangsung tanggal 29 Mei - 4 Juni 2000, menggugat penyatuan Papua dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dilakukan pemerintah Belanda, Indonesia, dan PBB di masa Presiden Soekarno. Menurut kongres tersebut, bangsa Papua telah berdaulat sebagai sebuah bangsa dan negara sejak 1 Desember 1961. Selanjutnya kongres meminta dukungan internasional untuk memerdekakan Papua (Kompas, 05/06/2000). Selain itu, diduga keras telah terjadi pengiriman senjata-senjata untuk para propagandis separatisme di Irian Jaya (OPM) oleh Papua Nugini dan Australia.

2. Kasus penembakan yang terjadi di Mile 62 - 63 jalan Timika - Tembagapura (Papua) pada 31 Agustus 2002. Peristiwa tersebut merenggut tiga nyawa karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI), masing-masing dua warga negara AS dan satu WNI, serta melukai 11 orang, satu di antaranya anak-anak, di wilayah kerja Freeport. Kasus ini terus diangkat oleh AS ke dunia internasional. Bahkan FBI dan CIA berdatangan ke Papua untuk mengusut peristiwa tersebut, termasuk kematian misterius Ketua PDP, Theys H Elluay. Sejak saat itu, persoalan Papua berhasil diangkat oleh AS untuk menjadi perhatian negara-negara di dunia maupun masyarakat internasional sebagai kasus pelanggaran HAM.

3. Bersama Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Republik Maluku Selatan (RMS) dan Fretilin, Organisasi Papua Merdeka (OPM) memiliki wadah tingkat internasional, yaitu Unrepresented Nations and Peoples Organizations (UNPO) yang bermarkas di Belanda. Para pimpinan mereka sering melakukan pertemuan di markas UNPO. Jadi, gerakan separatis di Indonesia memiliki wadah koordinasi di tingkat internasional, di mana antar gerakan tersebut tidak berdiri secara terpisah.

4. Juli 2005, Kongres AS membuat Rancangan Undang-Undang (RUU) 2601 yang memuat masalah Papua di Amerika. RUU itu sendiri telah disetujui Kongres AS dengan perbandingan suara 315 versus 78. Di antara isi RUU itu (section 1115) adalah adanya kewajiban menteri luar negeri AS untuk melapor kepada Kongres tentang efektivitas otonomi khusus Papua dan keabsahan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Sekalipun pemerintah AS melalui Deplu AS yang disiarkan dari Washington DC, Jum'at (29/7/2005), menyatakan tidak mendukung disintegrasi Papua dari Indonesia, namun persetujuan mayoritas Kongres terhadap RUU tersebut menunjukkan AS akan mendukung pelepasan tersebut.

Sedangkan di Maluku, upaya separatisme oleh gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) juga menempuh upaya yang sama. RMS mewujud dalam wajah lain bernama Forum Kedaulatan Maluku (FKM). Upaya intersionalisasi persoalan domestik Indonesia juga tampak pada FKM di Maluku. Ketua FKM, Alex Manuputty, mengakui bahwa jaringan FKM yang aktif terdiri dari 50 orang yang tersebar di berbagai negara seperti Australia, Belanda, Jerman, Amerika, dan Eropa. Bahkan, kini Alex Manuputty dikabarkan kabur ke Amerika, dan bebas berkeliaran di sana. Sementara pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa.
Internasionalisasi konflik yang terjadi di Maluku dengan turut campurtangannya Paus, PBB, dan berbagai pernyataan Amerika yang disampaikan berkali-kali, tidak lain adalah dalam rangka memisahkan wilayah Maluku dari Indonesia, dengan alasan bahwa mayoritas penduduknya adalah Kristen, seperti yang banyak dilansir oleh media massa yang tendensius. Semuanya itu menjadi catatan tersendiri, bahwa memang ada dukungan terhadap kelompok spratisme di Indonesia.

Semua fakta tadi menggambarkan dengan jelas, bahwa upaya internasionalisasi persoalan domestik Indonesia, khususnya persoalan disintegrasi, tampaknya memang merupakan agenda negara-negara Kafir imperialis Barat. Tujuannya jelas, agar dunia internasional mendukung disintegrasi tersebut seperti yang terjadi di Timor Timur. Sayangnya, pemerintah tidak bersikap tegas, dan melakukan manuver yang tepat untuk mengantisipasi persoalan tersebut.

Bahaya Disintegrasi

Harus diakui, salah satu nikmat terbesar yang diberikan kepada negeri-negeri Muslim, khususnya Indonesia, selain kekayaan alamnya yang melimpah, adalah penduduknya yang mayoritas Muslim. Siapa pun yang menghayati Islam akan menyaksikan, setidak-tidaknya ada lima potensi besar yang dimiliki umat Islam:

Pertama, Potensi Ideologis. Setelah komunisme runtuh, satu-satunya musuh ideologis AS adalah Islam. Carleton, saat mengomentari peradaban Islam dari tahun 800 M hingga 1600 M, menyatakan, "Peradaban Islam merupakan peradaban yang terbesar di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan negara adidaya (super state) yang terbentang dari satu samudera ke samudera lain; dari iklim Utara hingga Tropis dengan ratusan juta orang di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan suku." (Carleton, Technology, Business, and Our Way of Life: What's Next). Begitu juga pemikir yang sangat dipercaya AS, Samuel Huntington, dalam The Clash of Civilitation, menulis, "Problem mendasar bagi Barat bukanlah fundamentalisme, tetapi Islam sebagai peradaban yang penduduknya yakin akan ketinggian kebudayaannya, tapi dihantui rendahnya kekuataan mereka saat ini." Bush sendiri saat akan menyerbu Afghanistan menyatakan, bahwa perang tersebut merupakan perang peradaban. Potensi ideologis inilah yang dipandang sebagai ancaman oleh negara Kafir Imperialis.

Kedua, Potensi Geopolitis. Kaum Muslim secara geografis menempati posisi strategis jalur laut dunia. Mereka menempati Selat Gibraltar, Terusan Suez, Selat Dardanella dan Bosphorus yang menghubungkan jalur laut Hitam ke Mediterania, Selat Hormuz di Teluk dan Selat Malaka di Asia Tenggara. Dengan menempati posisi strategis seperti ini, kebutuhan dunia banyak ditentukan oleh umat Islam. Sebab, lalu-lintas internasional pasti akan melewati jalur laut tersebut. Jika seluruh wilayah kaum Muslim di dunia bersatu di bawah naungan Khilafah Islam, dan umat Islam berada dalam satu suara dan satu komando, niscaya mereka akan menjadi kekuatan adidaya. Inilah yang dianggap berbahaya oleh negara-negara besar yang mengemban ideologi Kapitalis saat ini. Dalam hal ini Indonesia merupakan salah satu negeri Muslim yang memiliki posisi geopolitis yang sangat strategis dalam percaturan internasional.

Ketiga, Potensi Sumber Daya Alam. Negeri-negeri Islam juga dianugerahi Allah dengan kekayaan alam yang melimpah; lembah, ngarai, hutan nan hijau, rempah-rempah yang melimpah, isi perut bumi berupa bahan tambang, minyak, dan gas bumi; kesuburan yang tiada taranya; laut dengan segala macam potensi yang ada di permukaannya, di dasarnya, maupun di perut buminya. Pendek kata, negeri kita, negeri kaum Muslim ini, dikurniai Allah SWT kekayaan yang luar biasa. Sebagai contoh, kekuatan ini pernah ditunjukkan oleh negeri-negeri Arab dalam embargo minyak tahun 1973-1974. Embargo ini sempat mengguncang ekonomi AS dan Eropa. Potensi sumberdaya alam ini, di satu sisi dipandang sebagai bahaya yang dapat mengalahkan negara-negara besar; sementara di sisi lain merupakan lahan bagi negara-negara besar untuk memperkaya diri mereka. Sekali lagi, Indonesia merupakan negara yang amat kaya sumberdaya alamnya.

Keempat, Potensi Jumlah Penduduk. Memang, jumlah penduduk bukanlah faktor penentu kekuatan suatu negara. Namun bila umat Islam di seluruh dunia bersatu di bawah Khilafah, jumlah penduduknya akan menjadi penduduk terbesar dengan ideologi Islam. Tentu, ini merupakan kekuatan yang luar biasa. Realitas menunjukkan, bahwa Indonesia dengan penduduk 220 juta jiwa merupakan negeri Muslim yang berpenduduk terbesar di dunia.

Kelima: Potensi Militer. Harus diakui, bahwa saat ini kekuatan militer dunia Islam sangat bergantung kepada musuh-musuh mereka. Tetapi, secara kuantitas jumlah tentara di Dunia Islam sangat besar. Bila direkrut 1 % saja dari penduduknya yang 1,5 Milyar, akan didapat 15 juta tentara. Di Indonesia, bila 1% saja penduduk dewasa menjadi tentara akan ada 10 juta tentara. Karena itu, dapat dibayangkan betapa kuatnya jika mobilisasi pasukan militer ini dilakukan oleh sebuah negeri Muslim, apalagi negara yang bersifat internasional. Pada sisi ini pula, Islam dipandang sebagai ancaman bagi peradaban Barat yang kapitalistik. Dalam hal ini, Indonesia dipandang juga memiliki potensi tersebut.
Semua potensi ini memunculkan ambisi negara-negara barat, agar umat Islam tidak menjadi negara adikuasa yang dapat menghilangkan kezhaliman dan nafsu penjajahan mereka? Dengan kata lain, bagaimana agar Islam dapat dikebiri secara ideologis? Bagaimana agar geopolitisnya tidak dapat digunakan untuk membangun peradaban Islam, melainkan justru dapat digunakan untuk kepentingan Barat? Bagaimana agar sumberdaya alamnya tidak dapat dikelola untuk memenangkan persaingan ekonomi dengan mereka; sebaliknya dapat dikuras untuk kepentingan mereka? Bagaimana agar penduduknya tidak menjadi ancaman? Dan bagaimana agar tidak muncul kalangan militer yang memiliki kesadaran ideologis Islam dalam jumlah yang besar, yang rindu akan perjuangan Islam, dan tidak mengalami depresi dalam pertempuran, bahkan siap berjuang dengan prinsip "hidup mulia atau mati syahid"? Jawabannya hanya satu, yaitu umat Islam harus dibuat lemah. Agar umat Islam lemah, maka harus dipecah belah. Karena itu, dilakukan berbagai upaya untuk menciptakan disintegrasi di tengah kaum Muslim. Saat ini Umat Islam telah terpecah menjadi 56 negara. Bahkan dari negara yang kecil-kecil itu akan dipecah belah lagi dengan disintegrasi yang terus berjalan hingga sekarang. Indonesia kini sedang diarahkan pada terjadinya disintegrasi semacam ini. Tujuannya agar umat Islam semakin remuk, hancur berkeping-keping, dan bertempur dengan sesamanya. Umat Islam dibuat menjadi buih raksasa!

Karenanya, mudah diduga apa yang memotivasi Barat untuk melakukan disintegrasi atas negeri-negeri Islam. Persatuan negeri-negeri Islam jelas merupakan ancaman besar bagi negara-negara Kafir Imprialisme Barat. Apalagi jika persatuan itu dibangun atas dasar ideologi yang sahih, yakni mabda Islam yang berdasarkan akidah Islam; dengan penerapan hukum-hukum yang mulia dan agung yakni syariat Islam, di dalam sebuah naungan institusi politik, yaitu Khilafah Islam.

Memang, tak dapat dipungkiri telah terjadi kezaliman dan ketidak adilan atas hak-hak rakyat di berbagai daerah. Namun, kondisi semacam ini tidak dapat diselesaikan dengan upaya disintegrasi atau pemisahan diri dari wilayah kesatuan negeri Muslim. Pemecahan yang sahih adalah dengan menyingkirkan kezaliman tersebut dan menyetarakan hak-hak seluruh rakyat dengan baik. Kezaliman yang terjadi selama ini disebabkan karena tidak diterapkannya syariat Islam. Ajaran Islam memerintahkan penguasa untuk menegakkan keadilan atas seluruh wilayah dan seluruh lapisan masyarakat, meskipun mereka berbeda-beda suku dan keyakinannya. Islam memerintahkan untuk bersikap adil dan ihsan. Juga memerintahkan untuk berbuat baik dalam hal pengaturan dan memelihara seluruh urusan warga negara, baik Muslim maupun non-Muslim. Sabda Rasulullah saw:
Dan seorang imam (Khalifah) adalah pemimpin atas (seluruh) rakyatnya. Dan ia bertanggung jawab atas (seluruh urusan) rakyatnya.

Wahai Kaum Muslim,

Kami menyerukan kepada seluruh kaum Muslim, baik para ulama, cendekiawan, para pemimpin ormas Islam, politisi Muslim, budayawan Muslim, hartawan Muslim, wartawan Muslim, hakim Muslim, jaksa Muslim, dosen Muslim maupun mahasiswa Muslim, waspadalah dengan makar orang-orang yang ingin menggerogoti wilayah kita, dengan menciptakan disintegrasi di negeri kita. Bersatulah menghadapi makar itu dan berjuanglah untuk menyatukan negeri ini dan mempertahankan keutuhannya. Allah SWT mewajibkan kita untuk mempertahankan keutuhan wilayah negeri Islam, termasuk Indonesia, dan menyatukan seluruh negeri-negeri Islam yang lainnya. Kita harus terus mempertahankan keutuhan negeri Muslim yang ada, seraya berupaya menggabungkannya satu sama lain. Kita sadar, disintegrasi hanya akan semakin memperlemah Islam dan umatnya, yang menyebabkan langgengnya kezaliman. Kelemahan itulah yang diinginkan oleh negara imperialis Kafir. Pihak imperialis terus berupaya mengerat-erat negeri Muslim. Indonesia yang merupakan negara besar, kini tengah berusaha dipecah-belah.

Kami juga menyerukan kepada para jenderal dan prajurit Muslim serta para polisi Muslim. Bangkitlah dengan kekuatan yang saudara miliki untuk menjaga setiap jengkal negeri ini agar tidak lepas dari tangan kekuasaan kita. Janganlah negeri ini diserahkan kepada musuh-musuh kita, yang siang dan malam terus melakukan konspirasi untuk memisahkan wilayah negeri ini. Karena itu, jagalah perbatasan wilayah negeri kita ini dengan niatan yang ikhlas, semata karena Allah, niscaya kita akan menang, sebagaimana Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah, dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung. (TQS. Ali 'Imran [3]: 200).

Kepada semua komponen umat Islam, baik sipil maupun militer, janganlah saudara memberi kesempatan kepada penguasa seperti dulu, ketika mereka melepaskan Timor Timur dari negeri ini. Ingatlah, bahwa segala keputusan dan sikap kita hari ini akan berdampak di masa depan, di dunia maupun di akhirat kelak. Telah tampak di mata kita, tangan-tangan asing dan keterpecahbelahan umat. Semua itu akibat kita tidak berpegang teguh pada tali Allah SWT yang kokoh, yaitu Islam.

Janganlah kita membiarkan diri kita semakin tercabik-cabik! Jagalah keutuhan kita! Pertahankan kesatuan yang masih ada. Berjuanglah terus bersama para pengemban dakwah, yaitu orang-orang yang memiliki kesadasaran politik yang sahih, yang berjuang untuk menjaga keutuhan wilayah negerinya semata-mata karena Allah SWT. Hanya dengan itu, keutuhan wilayah kita akan bisa terjaga, dan negeri ini akan terbebas dari belenggu penjajahan negara-negara Kafir imperialis itu.

14 Agustus 2005
Hizbut Tahrir Indonesia
Kepribadian sangat penting sekali untuk membuat anda dan juga teman - teman anda merasa nyaman dengan anda..Berikut ada tips - tips untuk melatih kepribadian anda, yang mudah - mudahan dapat dipraktekkan dan diimplementasikan ke dalam kehidupan anda. Jangan biarkan stress dan pikiran negatif mengubah anda menjadi murung, tetaplah gembira dengan latihan kepribadian berikut ini:

• Tetap tersenyum

Usahakan tetap tersenyum betapapun anda memiliki hari-hari yang tidak menyenangkan. Hal ini mungkin terasa seperti terpaksa saat itu tapi anda kemudian akan terheran-heran begitu besar senyum dapat meningkatkan spirit anda. Sepertinya memang sulit untuk tersenyum, apalagi setelah ada maslah yang sangat berat,,mis : nilai ujian yang kurang bagus,seperti saya baru - baru ini mendapatkan nilai yang kurang bagus, tapi saya tetap tersenyum dan saya merasakan ketenangan yang sangat luar biasa, kalau menurut saya nilai kurang bagus itu dikarenakan sebelumnya saya kurang belajar dan menyepelekkan ujian tersebut, jadi yang saya lakukan yaitu mencoba lebih baik, dan akan diimplementasikan dari sekarang, sehingga ujian berikutnya menjadi lebih baik,,saya berani jamin.

• Pandai mengontrol diri
Mengontrol diri sangat menyulitkan memang, tetapi jika anda sudah dapat menguasainya, maka akan mendapatkan ketenangan yang tak ternilai, Ekspresi wajah merupakan salah satu tanda yang menggambarkan perasaan anda yang paling mudah dikenali. Usahan ekspresi mimik muka anda netral sekalipun ketika anda tengah marah atau stress dan jangan biarkan dahi berkerut karena kerutan itu perlahan-lahan akan membuat anda nampak lebih tua.

• Tetap berkomunikasi
Menutup dan menolak berkomunikasi secara emosio hanya bakal membuat masalah lebih runyam jika hari-hari anda telah penuh dengan kegelisahan dan ketegangan. Tidak masalah apapun situasinya, cobalah membuat segala sesuatu mudah dan teratur dengan membiarkan berkomunikasi kepada teman atau rekan kerja anda.

• Rasakan perasaan orang
Pikirkan bagaimana anda ingin diperlakukan orang lain sebelum anda memuntahkan perasan kesal pada orang lain. Tak ada seorangpun di sekitar anda yang ingin menjadi objek cemberut anda. Jika anda tidak ingin diperlakukan seperti itu, jangan memperlakukan orang lain seperti itu.

• Miliki rasa humor
Seberapapun beratnya hari-hari anda, cobalah untuk tidak menghilangkan perasaan humor. Humor sangat penting untuk mempertahankan keharmonisan pertemanan anda.Tertawa itu baik bagi jiwa dan membantu membuat orang di sekitar anda merasa lebih baik dan tujukan anda memiliki kpribadian baik.


Pada saat memikirkan tentang tujuan (ghoyah) dan target (ahdaf), pertama kali harus membatasi lebih dahulu apa yang dimaksud dengan ghoyah atau ahdaf. Ini sudah menjadi suatu keharusan untuk sampai pada proses berfikir yang membuahkan hasil. Pembatasan tersebut bukan perkara yang mudah, karena umat dan bangsa yang mundur biasanya tidak mengetahui apa yang diinginkannya. Mereka tidak mampu mengetahuinya. Jangankan individu-individu yang mundur pemikirannya, orang-orang yang tinggi pemikirannya pun tidak biasa membatasi apa yang mereka inginkan. Bahkan diantara mereka ada yang tidak mampu membatasi tujuan atau targetnya.

Banyak bangsa, umat maupun orang-perorang yang dikuasai oleh sikap-sikap emosional, ikut-ikutan, dan tidak berpikir jernih. Kondisi ini muncul biasanya karena terdapat unsur-unsur yang mengancam eksistensi mereka. Akibatnya terbentuk pemikiran-pemikiran yang kacau, ditambah lagi dengan arus informasi yang tidak jelas, sehingga mereka terdorong untuk melakukan suatu aktivitas tanpa mengindahkan lagi tujuannya, atau tanpa membatasi lagi ghoyah. Padahal membatasi target dan tujuan dalam berpikir adalah perkara yang mesti ada, agar proses berpikir mampu membuahkan hasil. Berpikir atau beramal akan terwujud karena sesuatu, yaitu adanya tujuan. Setiap manusia merupakan pemikir, tetapi tidak setiap manusia mampu membatasi tujuan berpikirnya.

Target dan tujuan berbeda-beda seiring dengan bermacam-macamnya keadaan manusia. Umat yang mundur, mempunyai tujuan ingin bangkit. Umat yang maju tujuannya adalah ingin merealisasikan seluruh bentuk pemuasan kebutuhannya. Bangsa yang baru eksis, pada tahap pertama kali memiliki tujuan ingin mempertahankan lingkungan tempat hidupnya. Bangsa yang maju tujuannya adalah ingin memperbaiki keadaannya dan ingin memunculkan perubahan yang lebih baik. Individu yang mundur pemikirannya, memiliki tujuan untuk memuaskan potensi kehidupannya. Satu bangsa yang maju pemikirannya mempunyai tujuan ingin memperbaiki bentuk pemuasan kebutuhan yang ada pada dirinya. Walhasil, target dan tujuan akan berbeda-beda seiring dengan perbedaan kondisi manusia dan taraf berpikirnya. Meskipun tujuan dan target ada pada bangsa-bangsa dan individu, tetapi bersabar untuk merealisasikan tujuan dan bersungguh-sungguh untuk mencapainya hanya dijumpai pada tujuan jangka pendek dan mudah dicapai.


Contohnya adalah memenuhi berbagai kebutuhan-kebutuhan dasar (seperti makan, minum, berpakaian, memiliki tempat tinggal dan sejenisnya) -dilihat dari sisi pemenuhan itu sendiri- merupakan tujuan yang sangat mudah sifatnya, meski tidak langsung diperoleh begitu saja. Oleh karena itu kemampuan untuk bersabar –dalam memperolehnya- hampir ada pada seluruh manusia, meskipun kemampuan tersebut berbeda-beda tingkatannya. Apabila kita berusaha untuk mendapatkan makanan, atau berusaha untuk memberi makan keluarga, atau ingin memiliki sesuatu, atau memperoleh rasa aman dan lain-lain, maka upaya untuk merealisir tujuan-tujuan semacam ini selalu ada pada mayoritas manusia. Sebab perkara-perkara tersebut merupakan perkara-perkara dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Sementara jika kita berusaha untuk bangkit atau untuk membangkitakan suatu bangsa, atau berusaha untuk meningkatkan martabat/kedudukan bangsa dan umat kita, maka realisasi tujuan-tujuan semacam ini membutuhkan kesabaran dan usaha lebih keras yang bersifat terus menerus. Dan hal ini seringkali diluar batas-batas kemampuan seorang manusia. Contohnya adalah, kadang-kadang kita sudah mulai berusaha untuk meraih tujuan-tujuan yang telah kita tentukan, tetapi kita membatasi diri untuk tidak merealisasikan suatu tujuan, karena tatkala berupaya untuk meraih tujuan tersebut, ternyata kita banyak menemui kesulitan, juga akibat tidak adanya kesabaran. Kadang-kadang kita mulai berusaha, tetapi memulai aktivitas untuk meraih tujuan tadi dan tatkala menjalankannya tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Akibatnya, walau kita tetap berusaha meraih tujuan tersebut, tetapi tetap tidak dapat merealisir tujuannya. Padahal tidak mendapatkan kesulitan dan tidak kehilangan kesabaran. Hal itu disebabkan karena kita memang tidak sungguh-sungguh menjalankan usaha tersebut. Dan sudah lumrah diketahui bahwa merealisir tujuan yang jauh (berjangka panjang) dan sulit seperti itu sangat membutuhkan keseriusan, kesabaran dan usaha yang terus menerus.

Seorang individu biasanya lebih mampu untuk bersikap sabar daripada sebuah jamaah, bangsa ataupun umat. Pandangan seorang individu biasanya lebih jelas dan lebih kuat daripada jamaah, karena kumpulan manusia cenderung akan melemahkan proses berpikir dan pandangan mereka. Oleh karena itu pandangan satu orang akan lebih kuat dibandingkan dengan pandangan dua orang. Setiap kali bilangannya semakin besar, maka pandangan mereka akan semakin lemah. Dengan demikian kita tidak bisa meletakkan berbagai tujuan yang jauh (bersifat jangka panjang) bagi suatu bangsa, karena mereka tidak akan berjalan untuk merealisirnya. Jika mereka berjalanpun, mereka menjalankannya tidak dengan sungguh-sungguh dan serius, sehingga tidak akan mencapai tujuannya. Berdasarkan hal ini maka tujuan yang diletakkan bagi suatu bangsa harus tujuan yang dekat (berjangka pendek), mudah (sederhana) dan amat mungkin direalisasikan. Hal ini mengharuskan dibuatnya tujuan antara, atau tahapan-tahapan. Sehingga apabila satu tujuan (dalam suatu tahapan) dapat direalisir, mereka bisa bangkit untuk merealisir tahap berikutnya, begitu seterusnya. Dalam hal ini sebuah jamaah lebih dekat/mudah dibandingkan individu untuk melihat sesuatu yang real, dan lebih sedikit menanggung beban kesulitan yang besar. Sedangkan pada individu-individu -secara umum- mereka mampu melihat bahwa sesuatu yang mungkin secara akal pasti mungkin pula (dicapai-peny) secara real. Individu mampu melihat sesuatu yang jauh, lebih bersabar menghadapi kesulitan dan lebih mampu menanggung hambatan.

Tujuan atau target yang diletakan untuk suatu umat, bangsa atau individu, -dari sisi realisasinya- tidak boleh ditujukan bagi generasi-generasi yang akan datang, dan tidak boleh diluar kemampuan manusia. Disamping itu tidak boleh memasukkan sarana-sarana yang tidak ada atau tidak mungkin diwujudkan. Tujuan harus mungkin direalisir oleh generasi yang ada saat ini, dengan mengerahkan potensi yang dimiliki oleh manusia normal, menggunakan sarana-sarana yang ada atau mungkin untuk diadakan. Tujuan merupakan target yang akan diraih oleh pihak yang berusaha meraihnya, dan dia tidak akan merealisirnya apabila melihat bahwa tujuan tersebut tidak bisa direalisasikan. Selama manusia berusaha mewujudkan tujuannya, pasti dia membutuhkan sarana-sarana yang menjadi perantara untuk merealisasikannya. Apabila sarana tersebut tidak dimilikinya, maka dia tidak akan bisa mengusahakannya, walaupun dia menampakkan usahanya atau membohongi dirinya bahwa dia sedang berusaha. Manusia berusaha mengandalkan kekuatannya sebagai manusia. Apabila kekuatan tersebut tidak cukup, maka dia tidak akan mampu merealisirnya. Manusia tidak akan dituntut dengan beban yang ada di luar kemampuannya. Bahkan manusia tidak akan mampu melakukan aktivitas di luar kemampuannya. Atas dasar ini suatu tujuan meskipun jauh (berjangka panjang), harus tergolong sesuatu yang mungkin diwujudkan oleh orang yang sedang berusaha, mengandalkan potensi normal yang dimilikinya sebagai manusia, dan dengan menggunakan sarana-sarana yang ada pada dirinya.

Jadi, tujuan itu harus ditentukan/dibatasi. Tujuan harus bersifat empirik, bisa dilihat oleh mata, kepala, dan bias dijangkau akal. Tujuan harus mungkin diwujudkan secara akal dan realita. Jika tidak, maka keberadaannya sebagai tujuan dianggap tidak ada. Bangsa-bangsa maupun umat, sama seperti halnya seorang individu, harus mempunyai tujuan dalam proses berpikir maupun amalnya. Hanya saja tujuan suatu bangsa atau umat bukan tujuan yang jauh dan sulit untuk dicapai. Semakin dekat suatu tujuan dan mudah diwujudkan, akan semakin baik dan mudah membuahkan hasil.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah membedakan antara tujuan dengan nilai yang paling tinggi (al-matsalul a’la). Al-matsalul a’la adalah tujuan dari segala tujuan, atau yang biasa disebut dengan ghoyatul ghoyah. Pada al-matsalul a’la tidak disyaratkan sesuatu kecuali harus ada usaha untuk meraih dan mewujudkannya. Tidak disyaratkan harus mungkin untuk diwujudkan secara nyata (fi’lan). Hanya disyaratkan harus mungkin diwujudkan secara akal. Perbedaan diantara keduanya adalah bahwa tujuan mesti diketahui sebelum pelaksanaan amal, dan harus senantiasa diketahui selama pelaksanaan amal. Juga harus diusahakan dengan sungguh-sungguh untuk diwujudkan secara terus menerus, sehingga bisa diwujudkan secara nyata. Adapun al-matsalul a’la, maka tetap harus diperhatikan selama berpikir dan beramal. Sebagai contoh, ridla Allah termasuk al-matsalul a’la bagi kaum muslimin. Namun sebagian kaum muslimin menjadikan surga sebagai al-matsalul a’la. Sebagian yang lain menjadikan jauh dari neraka sebagai al-matsalul a’la. Akan tetapi dua perkara tersebut dan yang sejenisnya, meskipun bisa dijadikan ghoyatul ghoyah tidak bisa dinyatakan sebagai al-matsalul a’la. Dua tujuan tadi tergolong tujuan dari tujuan-tujuan sebelumnya. Setelahnya terdapat juga tujuan (yaitu al-matsalul a’la). Al-matsalul a’la, meskipun termasuk ghoyatul ghoyah, tetapi setelahnya tidak terdapat tujuan lagi. Ghoyatul ghoyah yang tidak ada lagi tujuan setelahnya, adalah keridloan Allah. Jadi, al-matsalul a’la bagi seorang muslim adalah mencapai keridloan Allah, bukan ingin masuk surga atau menghindari masuk neraka.

Dengan demikian al-matsalul a’la meskipun termasuk ghoyah –dilihat dari sisi ghoyatul ghoyah- tetapi berbeda dengan tujuan dan target. Apa yang dikatakan tentang berpikir dan amal, bahwa keduanya harus ada pembatasan tujuan. Dalam hal ini tidak termasuk al-matsalul a’la. Yang dimaksud disini adalah ghoyah yang bisa diwujudkan secara nyata, meskipun dibaliknya masih terdapat tujuan lain atau bahkan tujuan-tujuan yang lain. Berdasarkan hal ini ghoyah harus dibatasi dan harus mungkin diwujudkan oleh orang yang berusaha mewujudkannya, bukan oleh generasi-generasi yang akan datang. Sarana-sarananya harus bisa didapatkan dengan mudah atau harus mungkin bisa dijalankan secara praktis (‘amali) dan nyata (waqi’i). Ghoyah berbeda dengan al-matsalul a’la. Ghoyah merupakan target tertentu untuk dicapai. Oleh karena itu berpikir tentang ghoyah harus bersifat waqi’i dan ‘amali, artinya harus mungkin diwujudkan oleh orang yang sedang mengusahakannya


Dalam bahasa Indonesia, kata 'nafsu' bermakna positif dan negatif, sama halnya dengan istilah al-nafs dalam Alquran. Dalam pengertian negatif, kata nafsu diartikan sebagai dorongan hati yang kuat untuk berbuat tidak baik. Kata nafsu diartikan pula dengan konotasi positif ketika dipahami sebagai selera, gairah, atau keinginan terhadap sesuatu. Dalam Alquran dijelaskan ada tiga bentuk nafsu manusia.

Pertama, nafsu ammarah bissu'. Nafsu ini sangat berbahaya apabila melekat pada diri seseorang. Sebab, nafsu ini selalu mengarahkan manusia pada perbuatan tidak baik, kejahatan, dan perilaku yang bertentangan dengan agama. Firman Allah SWT, ''Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.'' (QS 12: 53). Orang yang dikuasai nafsu ammarah bissu' akan diperbudak nafsunya. Bahkan, ia menjadikannya sebagai 'tuhan' yang dipatuhi dan dituruti. Orang seperti ini lebih sesat daripada binatang yang hanya mempunyai nafsu, seperti firman Allah, ''Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.

Maka, apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?'' (QS 25: 43). Orang yang mengikuti nafsu ini tidak mampu memfungsikan indera dan akalnya untuk memahami kebenaran. Allah SWT berfirman, ''Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).
Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.'' (QS 7: 179).
Kedua, nafsu lawwamah. Nafsu ini sudah mengenal mana yang baik dan buruk. Orang yang memiliki nafsu ini belum sempurna berada dalam kebaikan. Nafsu ini selalu mengarahkan pemiliknya menentang kejahatan, tetapi suatu saat, karena lalai, ia terjerumus kepada kejahatan dan perbuatan dosa. Keadaan ini membuat pelakunya menyesal terhadap dosa yang telah dilakukan, seperti firman Allah, ''Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).''(QS 75: 2). Namun, setiap kali ia bertobat dari kesalahan yang telah dilakukan, ia kemudian lupa dan kembali melakukan dosa. Ketiga, nafsu muthmainnah. Ini merupakan nafsu yang baik dan membuat pemiliknya tenang berada dalam ketaatan dan kebaikan.

Nafsu ini telah mendapat rahmat dari Allah sehingga pemiliknya berpendirian teguh untuk menjadikan Allah sebagai Tuhan yang disembah. Allah SWT menjelaskan, ''Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (QS 12: 53). Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu menjauhi nafsu ammarah bissu' dan nafsu lawwamah. Sebaliknya, ia perlu memiliki nafsu muthmainnah. Melaluinya, ia akan memperoleh ketenangan hidup, selalu menampilkan perbuatan baik yang membawa kemaslahatan bagi dirinya, bangsa, dan negara.


"Bangun subuh tiap hari? Engga janji la yau...!". Itu barangkali ucapan orang-orang yang malas bangun pada subuh hari. Alasannya, takut ngantuk siang harinya di sekolah, atau di tempat kerja. Sungguh keliru pandangan itu. Bangun subuh rutin setiap hari, justru membuat badan segar, sehat, dan kuat. Kenapa begitu? Logika sederhananya, pagi hari udara masih bersih, belum banyak polusi udara, sehingga baik untuk paru-paru kita. Di samping itu embun pagi yang turun pada subuh hari dan menerpa badan kita (jika kita keluar jalan-jalan atau ke masjid -- pen), akan menyehatkan pori-pori kulit kita.

Jadi sesungguhnya, membiasakan bangun pagi pada seluruh anggota keluarga kita, adalah kebiasaan positif yang harus dipelihara. Apalagi bagi keluarga Muslim, seyogyanya tradisi bangun subuh bukan hal yang asing. Karena ada perintah sholat subuh yang wajib dilaksanakan oleh seluruh anggota keluarga yang sudah aqi-baligh (dewasa).

Siapapun tak menyangkal, bahwa bangun pada subuh hari akan menguntungkan kita dipandang dari sudut manapun. Dari sudut kesehatan, jelas kebiasaan menghirup udara bersih pada subuh hari, akan menguatkan paru-paru. Di samping itu, suasana subuh yang nyaman dan bersih itu akan memberi pencerahan pada jiwa dan otak kita. Buktinya, menghafal pada subuh hari (bagi anak-anak yang sedang menghadapi ujian sekolah atau ulangan umum) akan lebih mudah diserap oleh otak.

Dari sudut sosial, orang-orang yang sering bangun subuh dan sering sholat subuh berjama'ah di masjid, akan menumbuhkan jalinan ikatan sosial dan persaudaraan yang lebih kokoh, ketimbang melalui pergaulan di luar masjid. Apalagi bagi pekerja yang sibuk dan jarang berada di rumah pada waktu-waktu Maghrib dan 'Isya, maka kesempatan bersosialisasi dengan masyarakat adalah lewat sholat Subuh berjama'ah di masjid. Percayalah, jalinan persaudaraan lewat sholat Subuh berjama'ah di masjid akan lebih nyaman dan erat.


Dari sudut ekonomi apalagi, jangan ditanya. Pasti semua sepakat, yang tidak pernah bangun pagi pasti akan "ketinggalan kereta". Mereka yang menjual produk jasa atau barang, yang cocok dijajakan pagi hari, akan lebih mudah meraup rezeki, ketimbang mereka yang bangun agak siangan. Penarik becak, sopir angkot, penjaja sayur-mayur di pasar, juga pedagang nasi uduk dan makanan lainnya, pasti akan numpuk dagangannya alias tidak laku, jika mereka bangun setelah matahari terbit. Agaknya tepat pepatah Bahasa Inggris yang mengatakan, "early come early serve" yang arti bebasnya, "yang lebih awal bangun, mereka yang lebih dulu akan meraup keuntungan".

Selain itu, jika seluruh anggota keluarga bisa komitmen rutin bangun pagi, biaya listrik akan lebih irit. Sebab kita bisa matikan lampu-lampu kamar atau ruangan lainnya lebih dini. Ini bukan hanya penghematan pembayaran listrik, tapi lampu akan lebih awet. Jadi secara tidak langsung kebiasaan bangun pagi pada dasarnya berdampak pada keuntungan ekonomi yang cukup signifikan.

Keuntungan bagi keluarga tak kalah besarnya. Jika seluruh anggota keluarga komitmen bangun pagi, segala urusan (pekerjaan rumah, sekolah maupun kerja) relatif jadi lebih mudah. Bagaimana tidak? Anak-anak yang terbiasa bangun pagi, bukan hanya tidak tergesa-gesa dalam menyiapkan pelajaran dan keperluan sekolah lainnya, tapi juga diharapkan bisa sedikit membantu beres-beres rumah. Selain itu mereka tak saling berebut ke kamar mandi atau WC (jika kamar mandi dan WC cuma satu sementara jumlah anggota keluarga relatif banyak -- pen).

Semua itu bukan hanya menutup peluang ribut-ribut antar anak-anak yang mau sekolah, tapi sebaliknya melahirkan kebersamaan dan persaudaraan yang lebih akrab dan hangat. Apalagi sebelum berangkat sekolah atau bekerja, seluruh anggota keluarga sarapan bareng semeja..., duh nyaman deh!

Bangun subuh hari seluruh anggota keluarga pada hari-hari libur, so pasti menyenangkan. Cobalah bikin agenda bangun subuh di hari libur, lalu janji berolah raga bareng-bareng. Lari-lari pagi kek, jalan-jalan kek, atau sekadar senam kesegaran jasmani di lapangan yang dekat dengan rumah. Kalau bisa janjian dengan tetangga atau rekan terdekat. Akan lebih baik lagi, bila dengan teman-teman saling mengingatkan bangun pagi dengan "tahajud/subuh call".

Karena itu, hendaknya kita tak henti-henti mendorong anggota keluarga untuk rajin dan rutin bangun subuh hari. Keuntungannya pasti besar, baik dunia maupun akhirat. Ayo deh kita berlomba-lomba bangun subuh hari. Kalau perlu yang paling awal bangun diberi hadiah. Itu hanya salah satu kiat untuk menggairahkan dan menggiatkan kebiasaan bangun subuh hari. Kiat apa saja bisa kita lakukan, intinya supaya tumbuh semangat berlomba bangun pagi pada seluruh anggota keluarga kita.

Mau jadi milyader dunia akhirat? Ayo bangun di waktu fajar, lalu sholat fajar dua raka'at. Karena kata Nabi SAW, "Barangsiapa yang sholat sunah di waktu fajar, maka dia telah mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari dunia dan seisinya." Yuk berlomba bangun pagi! (sulthoni)