Aku akan memulainya dengan ucapan syukur
dan senyuman bukan kritikan.
Akan kuhargai setiap detik, menit dan jam,
karena tak sedetik pun dapat ditarik kembali.

Hari ini tidak akan kusia-siakan,
seperti waktu lalu yang terbuang percuma.
Hari ini takkan kuisi dengan kecemasan tentang apa yang akan terjadi esok.

Akan kupakai waktuku untuk membuat sesuatu yang kuidamkan terjadi.
Hari ini aku belajar lagi,
untuk merubah diri sendiri.

Hari ini akan kuisi dengan karya.

Kutinggalkan angan-angan, yang selalu mengatakan:
"Aku akan melakukan sesuatu jika keadaan berubah."

Jikalau keadaan tetap sama saja,
dengan kemurahan-Nya aku tetap akan sukses dengan apa yang ada padaku.

Hari ini aku akan berhenti berkata:
"Aku tidak punya waktu"
Karena aku tahu,
aku tidak pernah mempunyai waktu untuk apapun.
Jika aku ingin memiliki waktu,
aku harus meluangkannya.

Hari ini akan kulalui seolah hari akhirku.
Akan kulakukan yang terbaik dan tidak akan ditunda sampai esok.
Karena hari esok belum tentu ada.


(submitted by Iwan Surya D., iwan233@h...)


Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan;
jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan;
tapi lihatlah sekitar anda dengan penuh kesadaran.
(James Thurber)





















Betapa hebatnya waktu mengatur kita. Ketika lonceng jam usai
kerja berdering, tanpa diperintah segera kita berkemas.
Menyimpan kertas dan pensil dalam laci, lalu meninggalkannya
jauh-jauh. Seolah semua persoalan telah terpecahkan untuk
hari itu. Padahal masalah tetap terjaga selagi kita pejamkan
mata.

Namun, esok hari, ketika lonceng jam mulai kerja berdentang,
semua tumpukan masalah kita aduk, seolah ia terlampau banyak
tidur semalam. Perselisihan pun bolehlah dilanjutkan kembali.
Ah, betapa hebatnya waktu menghibur kita. Betapa bergairahnya
waktu membangunkan kita.

Saat kita mengatur waktu, sesungguhnya kita pun mengatur
pikiran, emosi, dan perasaan kita. Karena waktu adalah
lingkaran dimana kehidupan kita berjalan, kita atur waktu
untuk mengatur kehidupan.

Kita rayakan sesuatu karena kita ciptakan hari besar. Kita
heningkan diri karena kita tegakkan kesyahduan. Dan, semua
itu kita rangkai dalam jalinan waktu. Maka, hanya mereka
yang tak kenal akan waktulah yang terjerat dalam persoalan
tiada berujung.

11 Sikap yang Menjadi Penyumbang Kegagalan :

1. Arogansi: merasa diri paling benar dan yang lain salah

2. Melograma: selalu ingin menjadi pusat perhatian

3. Volatility: sulit ditebak, bersikap sesuai mood-nya

4. Excessive Caution: takut mengambil keputusan

5. Habitual Distrust: sikap yang selalu curiga kepada orang lain

6. Aloofness: sulit dihubungi dan berkomunikasi dengan orang lain

7. Mischievousness: peraturan dibuat untuk dilanggar

8. Eccentricity: selalu ingin berbeda, sehingga terkadang dianggap aneh oleh
orang lain

9. Passive Resistance: tidak yakin dengan apa yang dia katakan

10. Perfectionism: kebanyakan dianggap salah, hanya sedikit yang benar

11. Eagerness to please: mengejar popularitas dalam setiap situasi

Adakah Anda memiliki salah satu sikap-sikap di atas?

Sebaiknya Anda memikirkan untuk mengelolanya dari sekarang.

Sumber: Disadur dari Why CEOs Fail by David L. Dotlich & Perter C. Cairo;
Jossey-Bass, 2003


















Hiduplah dengan penuh antusiasme..
Hadapi sesuatu dengan hasrat untuk terpesona..
Dunia ini sudah begitu menakjubkan..
Jangan biarkan anda menyia-nyiakan pandangan untuk mereguk rasa kagum..
Yang anda perlukan adalah responsi yang spontan..
Ada baiknya anda sedikit mengurangi pertimbangan dan
penilaian anda mengenai positif atau negatif..
Sikap antusias hanya membutuhkan..
dan hanya melihat sisi positif dari segala sesuatu..

Ini bukan masalah agar anda tampak bersemangat..
dan ceria dalam menjalani jalur keberhasilan anda..
Namun, ini akan meringankan anda dari hal-hal yang mengkhawatirkan..
Tak ada gunanya melihat dan mencemaskan sisi negatif..
Pikiran anda terlalu jernih untuk dibebani dengan prasangka-prasangka..
Kini, biarkan rasa kagum dan imajinasi memenuhi benak anda..














Keberhasilan yang diraih..
atau kegagalan yang menimpa dapat ditelusuri jauh ke dalam diri anda..
Karena andalah yang menjalani semua ini..
Bukan orang lain..
Hanya saja..
terlalu banyak orang tak mau memikul tanggung jawab itu..
Bagi mereka mempertanggungjawabkannya adalah beban..
Padahal, tak seorang pemimpin pun tak merasakan kebebasan setelah berani..
mempertanggungjawabkan kepemimpinannya..
Dan, tanggung jawab tertinggi untuk mencapai kebebasan murni adalah bertanggung
jawab atas diri sendiri..

Seorang bijak pernah menulis demikian:
"Amatilah pikiranmu, karena akan menjadi ucapanmu..
Amatilah ucapanmu, karena akan menjadi tindakanmu..
Amatilah tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu..
Amatilah kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu..
Amatilah karaktermu, karena akan menjadi nasibmu."
Di atas semua itu, amatilah diri anda..
Hanya mereka yang mengenal dirinyalah..
yang akan mencapai ketenangan diri yang sesungguhnya..