Pada saat memikirkan tentang tujuan (ghoyah) dan target (ahdaf), pertama kali harus membatasi lebih dahulu apa yang dimaksud dengan ghoyah atau ahdaf. Ini sudah menjadi suatu keharusan untuk sampai pada proses berfikir yang membuahkan hasil. Pembatasan tersebut bukan perkara yang mudah, karena umat dan bangsa yang mundur biasanya tidak mengetahui apa yang diinginkannya. Mereka tidak mampu mengetahuinya. Jangankan individu-individu yang mundur pemikirannya, orang-orang yang tinggi pemikirannya pun tidak biasa membatasi apa yang mereka inginkan. Bahkan diantara mereka ada yang tidak mampu membatasi tujuan atau targetnya.

Banyak bangsa, umat maupun orang-perorang yang dikuasai oleh sikap-sikap emosional, ikut-ikutan, dan tidak berpikir jernih. Kondisi ini muncul biasanya karena terdapat unsur-unsur yang mengancam eksistensi mereka. Akibatnya terbentuk pemikiran-pemikiran yang kacau, ditambah lagi dengan arus informasi yang tidak jelas, sehingga mereka terdorong untuk melakukan suatu aktivitas tanpa mengindahkan lagi tujuannya, atau tanpa membatasi lagi ghoyah. Padahal membatasi target dan tujuan dalam berpikir adalah perkara yang mesti ada, agar proses berpikir mampu membuahkan hasil. Berpikir atau beramal akan terwujud karena sesuatu, yaitu adanya tujuan. Setiap manusia merupakan pemikir, tetapi tidak setiap manusia mampu membatasi tujuan berpikirnya.

Target dan tujuan berbeda-beda seiring dengan bermacam-macamnya keadaan manusia. Umat yang mundur, mempunyai tujuan ingin bangkit. Umat yang maju tujuannya adalah ingin merealisasikan seluruh bentuk pemuasan kebutuhannya. Bangsa yang baru eksis, pada tahap pertama kali memiliki tujuan ingin mempertahankan lingkungan tempat hidupnya. Bangsa yang maju tujuannya adalah ingin memperbaiki keadaannya dan ingin memunculkan perubahan yang lebih baik. Individu yang mundur pemikirannya, memiliki tujuan untuk memuaskan potensi kehidupannya. Satu bangsa yang maju pemikirannya mempunyai tujuan ingin memperbaiki bentuk pemuasan kebutuhan yang ada pada dirinya. Walhasil, target dan tujuan akan berbeda-beda seiring dengan perbedaan kondisi manusia dan taraf berpikirnya. Meskipun tujuan dan target ada pada bangsa-bangsa dan individu, tetapi bersabar untuk merealisasikan tujuan dan bersungguh-sungguh untuk mencapainya hanya dijumpai pada tujuan jangka pendek dan mudah dicapai.


Contohnya adalah memenuhi berbagai kebutuhan-kebutuhan dasar (seperti makan, minum, berpakaian, memiliki tempat tinggal dan sejenisnya) -dilihat dari sisi pemenuhan itu sendiri- merupakan tujuan yang sangat mudah sifatnya, meski tidak langsung diperoleh begitu saja. Oleh karena itu kemampuan untuk bersabar –dalam memperolehnya- hampir ada pada seluruh manusia, meskipun kemampuan tersebut berbeda-beda tingkatannya. Apabila kita berusaha untuk mendapatkan makanan, atau berusaha untuk memberi makan keluarga, atau ingin memiliki sesuatu, atau memperoleh rasa aman dan lain-lain, maka upaya untuk merealisir tujuan-tujuan semacam ini selalu ada pada mayoritas manusia. Sebab perkara-perkara tersebut merupakan perkara-perkara dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Sementara jika kita berusaha untuk bangkit atau untuk membangkitakan suatu bangsa, atau berusaha untuk meningkatkan martabat/kedudukan bangsa dan umat kita, maka realisasi tujuan-tujuan semacam ini membutuhkan kesabaran dan usaha lebih keras yang bersifat terus menerus. Dan hal ini seringkali diluar batas-batas kemampuan seorang manusia. Contohnya adalah, kadang-kadang kita sudah mulai berusaha untuk meraih tujuan-tujuan yang telah kita tentukan, tetapi kita membatasi diri untuk tidak merealisasikan suatu tujuan, karena tatkala berupaya untuk meraih tujuan tersebut, ternyata kita banyak menemui kesulitan, juga akibat tidak adanya kesabaran. Kadang-kadang kita mulai berusaha, tetapi memulai aktivitas untuk meraih tujuan tadi dan tatkala menjalankannya tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Akibatnya, walau kita tetap berusaha meraih tujuan tersebut, tetapi tetap tidak dapat merealisir tujuannya. Padahal tidak mendapatkan kesulitan dan tidak kehilangan kesabaran. Hal itu disebabkan karena kita memang tidak sungguh-sungguh menjalankan usaha tersebut. Dan sudah lumrah diketahui bahwa merealisir tujuan yang jauh (berjangka panjang) dan sulit seperti itu sangat membutuhkan keseriusan, kesabaran dan usaha yang terus menerus.

Seorang individu biasanya lebih mampu untuk bersikap sabar daripada sebuah jamaah, bangsa ataupun umat. Pandangan seorang individu biasanya lebih jelas dan lebih kuat daripada jamaah, karena kumpulan manusia cenderung akan melemahkan proses berpikir dan pandangan mereka. Oleh karena itu pandangan satu orang akan lebih kuat dibandingkan dengan pandangan dua orang. Setiap kali bilangannya semakin besar, maka pandangan mereka akan semakin lemah. Dengan demikian kita tidak bisa meletakkan berbagai tujuan yang jauh (bersifat jangka panjang) bagi suatu bangsa, karena mereka tidak akan berjalan untuk merealisirnya. Jika mereka berjalanpun, mereka menjalankannya tidak dengan sungguh-sungguh dan serius, sehingga tidak akan mencapai tujuannya. Berdasarkan hal ini maka tujuan yang diletakkan bagi suatu bangsa harus tujuan yang dekat (berjangka pendek), mudah (sederhana) dan amat mungkin direalisasikan. Hal ini mengharuskan dibuatnya tujuan antara, atau tahapan-tahapan. Sehingga apabila satu tujuan (dalam suatu tahapan) dapat direalisir, mereka bisa bangkit untuk merealisir tahap berikutnya, begitu seterusnya. Dalam hal ini sebuah jamaah lebih dekat/mudah dibandingkan individu untuk melihat sesuatu yang real, dan lebih sedikit menanggung beban kesulitan yang besar. Sedangkan pada individu-individu -secara umum- mereka mampu melihat bahwa sesuatu yang mungkin secara akal pasti mungkin pula (dicapai-peny) secara real. Individu mampu melihat sesuatu yang jauh, lebih bersabar menghadapi kesulitan dan lebih mampu menanggung hambatan.

Tujuan atau target yang diletakan untuk suatu umat, bangsa atau individu, -dari sisi realisasinya- tidak boleh ditujukan bagi generasi-generasi yang akan datang, dan tidak boleh diluar kemampuan manusia. Disamping itu tidak boleh memasukkan sarana-sarana yang tidak ada atau tidak mungkin diwujudkan. Tujuan harus mungkin direalisir oleh generasi yang ada saat ini, dengan mengerahkan potensi yang dimiliki oleh manusia normal, menggunakan sarana-sarana yang ada atau mungkin untuk diadakan. Tujuan merupakan target yang akan diraih oleh pihak yang berusaha meraihnya, dan dia tidak akan merealisirnya apabila melihat bahwa tujuan tersebut tidak bisa direalisasikan. Selama manusia berusaha mewujudkan tujuannya, pasti dia membutuhkan sarana-sarana yang menjadi perantara untuk merealisasikannya. Apabila sarana tersebut tidak dimilikinya, maka dia tidak akan bisa mengusahakannya, walaupun dia menampakkan usahanya atau membohongi dirinya bahwa dia sedang berusaha. Manusia berusaha mengandalkan kekuatannya sebagai manusia. Apabila kekuatan tersebut tidak cukup, maka dia tidak akan mampu merealisirnya. Manusia tidak akan dituntut dengan beban yang ada di luar kemampuannya. Bahkan manusia tidak akan mampu melakukan aktivitas di luar kemampuannya. Atas dasar ini suatu tujuan meskipun jauh (berjangka panjang), harus tergolong sesuatu yang mungkin diwujudkan oleh orang yang sedang berusaha, mengandalkan potensi normal yang dimilikinya sebagai manusia, dan dengan menggunakan sarana-sarana yang ada pada dirinya.

Jadi, tujuan itu harus ditentukan/dibatasi. Tujuan harus bersifat empirik, bisa dilihat oleh mata, kepala, dan bias dijangkau akal. Tujuan harus mungkin diwujudkan secara akal dan realita. Jika tidak, maka keberadaannya sebagai tujuan dianggap tidak ada. Bangsa-bangsa maupun umat, sama seperti halnya seorang individu, harus mempunyai tujuan dalam proses berpikir maupun amalnya. Hanya saja tujuan suatu bangsa atau umat bukan tujuan yang jauh dan sulit untuk dicapai. Semakin dekat suatu tujuan dan mudah diwujudkan, akan semakin baik dan mudah membuahkan hasil.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah membedakan antara tujuan dengan nilai yang paling tinggi (al-matsalul a’la). Al-matsalul a’la adalah tujuan dari segala tujuan, atau yang biasa disebut dengan ghoyatul ghoyah. Pada al-matsalul a’la tidak disyaratkan sesuatu kecuali harus ada usaha untuk meraih dan mewujudkannya. Tidak disyaratkan harus mungkin untuk diwujudkan secara nyata (fi’lan). Hanya disyaratkan harus mungkin diwujudkan secara akal. Perbedaan diantara keduanya adalah bahwa tujuan mesti diketahui sebelum pelaksanaan amal, dan harus senantiasa diketahui selama pelaksanaan amal. Juga harus diusahakan dengan sungguh-sungguh untuk diwujudkan secara terus menerus, sehingga bisa diwujudkan secara nyata. Adapun al-matsalul a’la, maka tetap harus diperhatikan selama berpikir dan beramal. Sebagai contoh, ridla Allah termasuk al-matsalul a’la bagi kaum muslimin. Namun sebagian kaum muslimin menjadikan surga sebagai al-matsalul a’la. Sebagian yang lain menjadikan jauh dari neraka sebagai al-matsalul a’la. Akan tetapi dua perkara tersebut dan yang sejenisnya, meskipun bisa dijadikan ghoyatul ghoyah tidak bisa dinyatakan sebagai al-matsalul a’la. Dua tujuan tadi tergolong tujuan dari tujuan-tujuan sebelumnya. Setelahnya terdapat juga tujuan (yaitu al-matsalul a’la). Al-matsalul a’la, meskipun termasuk ghoyatul ghoyah, tetapi setelahnya tidak terdapat tujuan lagi. Ghoyatul ghoyah yang tidak ada lagi tujuan setelahnya, adalah keridloan Allah. Jadi, al-matsalul a’la bagi seorang muslim adalah mencapai keridloan Allah, bukan ingin masuk surga atau menghindari masuk neraka.

Dengan demikian al-matsalul a’la meskipun termasuk ghoyah –dilihat dari sisi ghoyatul ghoyah- tetapi berbeda dengan tujuan dan target. Apa yang dikatakan tentang berpikir dan amal, bahwa keduanya harus ada pembatasan tujuan. Dalam hal ini tidak termasuk al-matsalul a’la. Yang dimaksud disini adalah ghoyah yang bisa diwujudkan secara nyata, meskipun dibaliknya masih terdapat tujuan lain atau bahkan tujuan-tujuan yang lain. Berdasarkan hal ini ghoyah harus dibatasi dan harus mungkin diwujudkan oleh orang yang berusaha mewujudkannya, bukan oleh generasi-generasi yang akan datang. Sarana-sarananya harus bisa didapatkan dengan mudah atau harus mungkin bisa dijalankan secara praktis (‘amali) dan nyata (waqi’i). Ghoyah berbeda dengan al-matsalul a’la. Ghoyah merupakan target tertentu untuk dicapai. Oleh karena itu berpikir tentang ghoyah harus bersifat waqi’i dan ‘amali, artinya harus mungkin diwujudkan oleh orang yang sedang mengusahakannya

0 comments:

Posting Komentar